Pikiranmerdeka.com, NTT – Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) melalui Program Kerukunan Umat Beragama melakukan kunjungan kerja ke Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin, 3 November 2025.
Kunjungan ini bertujuan mempelajari praktik terbaik kerukunan beragama di provinsi yang meraih peringkat pertama Indeks Kerukunan Umat Beragama Nasional 2024 dengan skor 84,25.
Rombongan PP ISNU yang dipimpin oleh Wardi Taufik selaku Sekretaris Umum PP ISNU, akan mengunjungi tiga lokasi strategis: Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT dan Kampung Kerukunan di Kota Kupang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya PP ISNU mendokumentasikan dan mereplikasi model kerukunan beragama yang telah berhasil diterapkan di daerah dengan mayoritas non-Muslim.
Laboratorium Hidup Kerukunan Beragama
NTT menawarkan narasi kerukunan yang unik dan inspiratif. Dengan komposisi demografis 55,5% Katolik, 34,3% Kristen Protestan, dan 8,6% Islam, provinsi ini berhasil mempertahankan harmoni sosial yang tinggi. Kota Kupang bahkan masuk dalam 10 besar kota paling toleran versi SETARA Institute tahun 2025.
“NTT bukan sekadar cerita indah tentang toleransi. Ini adalah bukti empiris bahwa kerukunan beragama bisa dibangun, dipelihara, dan bahkan dikembangkan menjadi kekuatan sosial yang produktif,” ujar Wardi Taufik, Sekretaris Umum PP ISNU.
FAKTA KERUKUNAN NTT
Indeks Kerukunan: 84,25 (Peringkat #1 Nasional, 2 tahun berturut-turut)
Kota Kupang: Top 10 Kota Paling Toleran (SETARA Institute 2025)
Komposisi Agama: Mayoritas Kristen-Katolik (89,8%), Muslim minoritas (8,6%)
Forum Kerukunan: FKUB aktif periode 2024-2027 dengan dukungan penuh Pemda
Agenda Kunjungan: Dari Kebijakan hingga Praktik Lapangan
Konsolidasi Kelembagaan dan Eksplorasi Budaya
Kunjungan dimulai dengan audiensi ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT di Jalan Frans Seda, Kota Kupang.
Delegasi PP ISNU akan bertemu dengan Plt. Kepala Kanwil Kemenag NTT, Ishak Sulaiman, untuk mendiskusikan program Asta Protas Kemenag yang relevan dengan penguatan kerukunan, terutama fokus “Meningkatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan” serta “Layanan Keagamaan Berdampak.”
“Kerukunan di NTT ini adalah bukti bahwa persaudaraan yang dihormati dan dihargai mampu mengatasi berbagai perbedaan. Kemanusiaan adalah pondasi kehidupan,“ imbuh Ishak Sulaiman, Plt. Kepala Kanwil Kemenag NTT.
Selain itu, PP ISNU melakukan eksplorasi ke lokasi kerukunan strategis: masjid dan gereja yang berdampingan sebagai simbol toleransi nyata bersama Komunitas Peacemaker Kupang (KOMPAK) Orang Muda Lintas Agama.
Sebuah perkumpulan pemuda lintas agama dengan kesadaran menyuarakan perdamaian di kupang dan bertekad menjadikan Kupang sebagai barometer perdamaian Indonesia.
“Kami tidak ingin toleransi yang sudah berakar di Kupang ini hilang. KOMPAK hadir untuk mempertahankan, merawat, dan menjaga kerukunan di Kota Kasih, Nusa Tinggi Tolerasi yang kami cintai ini,” tegas Djonk Iskandar, Sekretaris KOMPAK.
Dari Dokumentasi Menuju Aksi Nyata
Kunjungan ini bukan sekadar studi banding, PP ISNU akan mendokumentasikan secara komprehensif praktik-praktik terbaik kerukunan beragama di NTT melalui film dokumenter, artikel feature, foto esai, dan infografik yang akan disebarluaskan ke seluruh Indonesia.
Lebih dari itu, PP ISNU juga akan mengidentifikasi program-program konkret yang membutuhkan dukungan pendanaan melalui mekanisme crowdfunding. Beberapa program prioritas telah disiapkan: Klinik Sehat, Beasiswa Nusantara, dan Pemberdayaan Masjid.
“Kami tidak hanya ingin belajar, tetapi juga berkontribusi nyata. Model kerukunan NTT harus diamplifikasi dan direplikasi di seluruh Indonesia, sementara program-program sosial yang memelihara harmoni ini harus kita dukung bersama,” tutur Dr. Abjan Halek, Ketua PP ISNU
Kolaborasi untuk Indonesia yang Lebih Rukun
Kunjungan PP ISNU ke NTT merupakan bentuk komitmen organisasi dalam memperkuat moderasi beragama dan kerukunan umat di Indonesia. Sebagai lembaga otonom Nahdlatul Ulama yang beranggotakan para sarjana dan intelektual Muslim, ISNU memiliki tanggung jawab menyebarluaskan nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamin melalui praktik-praktik konkret.
Dengan mempelajari pengalaman NTT—di mana umat Islam sebagai minoritas dapat hidup harmonis, berkontribusi aktif, dan dihormati oleh mayoritas non-Muslim—PP ISNU berharap dapat mendorong replikasi model serupa di berbagai daerah lain di Indonesia yang menghadapi tantangan kerukunan beragama.
Seluruh hasil kunjungan akan didokumentasikan dan dipublikasikan melalui berbagai platform media sosial PP ISNU dengan tagar #ISNUdiKupang, #ToleransiNTT, #KerukunanUmatBeragama, dan #ISNUsantara. (Amhar)