Mentrans M.Iftitah Sulaiman Suryanagara : 154 Kawasan Transmigrasi Dikembangkan Berbasis Riset Tim Ekspedisi Patriot

Des 24, 2025


Pikiran merdeka.com,Jakarta – Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan potensi 154 kawasan transmigrasi berbasis riset dan data. Hal tersebut dilakukan setelah Kementerian Transmigrasi (Kementrans) menerima hasil pemetaan potensi kawasan transmigrasi dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang bertugas langsung di lapangan.
Pernyataan itu disampaikan Mentrans Iftitah dalam kegiatan Diseminasi Hasil Riset dan Rekomendasi Kebijakan Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2025 yang digelar di Hotel Grand Melia, Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Menurut Iftitah, hasil riset dan pemetaan potensi kawasan transmigrasi tersebut akan menjadi dasar penyusunan program transmigrasi lima tahun ke depan.
“Kita sudah berhitung. Jika lahan ini diberdayakan dan infrastrukturnya dilengkapi, seberapa besar peningkatan produktivitasnya, seberapa besar lapangan kerja yang terbuka, serta seberapa besar dunia usaha masuk untuk berinvestasi,” ujar Iftitah.
Ia mengapresiasi kinerja Tim Ekspedisi Patriot yang selama empat bulan melakukan riset komprehensif di berbagai kawasan transmigrasi. Hasil riset tersebut dinilai mampu mendorong pengembangan ekonomi daerah berbasis kearifan lokal, mulai dari sektor perkebunan, perikanan, kelautan, pariwisata, hingga industri.
Mentrans juga menekankan efisiensi anggaran dalam pelaksanaan riset tersebut. Ia menyebutkan, satu tim riset Tim Ekspedisi Patriot hanya menghabiskan anggaran sekitar Rp400 juta, jauh lebih efisien dibandingkan riset serupa yang dilakukan pihak swasta.
“Sangat puas. Kita melakukan penghematan, tetapi hasilnya melampaui efisiensi yang dilakukan Kementerian Transmigrasi. Kalau riset swasta bisa sampai Rp800 juta, ini hanya Rp400 juta,” ungkapnya.
Selain melakukan pemetaan potensi, Tim Ekspedisi Patriot juga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di kawasan transmigrasi. Bentuknya antara lain bantuan pembangunan rumah, penyediaan sarana air bersih, hingga pendampingan sosial bagi masyarakat transmigran.
“Contohnya di Ogan Ilir, ada rumah transmigran yang terbakar. Seorang profesor dari Universitas Diponegoro membangun kembali rumah tersebut. Di NTT, pembangunan sarana air bersih dananya dicari sendiri oleh tim,” jelas Iftitah.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan dukungannya terhadap pengembangan kawasan ekonomi transmigrasi berbasis riset. Menurutnya, pemetaan potensi 154 kawasan transmigrasi dapat mempercepat lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.
“Transmigrasi adalah harapan baru bagi ekonomi daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan investasi. Riset ini mendorong inovasi produk yang menjadi keunggulan daerah,” kata Arif.
Ia menilai transmigrasi saat ini tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan menjadi instrumen strategis untuk mengembangkan ekonomi lokal berbasis potensi wilayah. Program Tim Ekspedisi Patriot 2025, yang merupakan bagian dari Program Trans Patriot Kementrans, juga dinilai mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia transmigran.
“Pengembangan transmigrasi berbasis sains ini patut diapresiasi dan menjadi langkah penting dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Arif.
Sebelumnya, Kementerian Transmigrasi telah menerjunkan sekitar 2.000 peneliti yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot. Para peneliti tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari guru besar, dosen, lulusan baru, hingga mahasiswa, yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.