Foto: Kondisi Pasar Kramat Jati Jakarta Timur pun tak luput diterpa sepinya pelanggan, pada Selasa (1/7/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Fenomena sepinya aktivitas di sejumlah pasar tradisional Jakarta kini juga melanda Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Pantauan pada Selasa (1/7/2025) menunjukkan adanya penurunan signifikan dalam jumlah pengunjung dan aktivitas jual beli di dalam pasar, terutama di bagian dalam yang dipenuhi kios kosong dan tutup.
Meskipun area lobi pasar masih terlihat cukup ramai, kondisi berubah drastis saat masuk lebih dalam. Kios-kios yang berderet tampak sebagian besar tutup. Menurut sejumlah pedagang, penurunan jumlah pelanggan telah berlangsung selama dua tahun terakhir dan makin parah sejak awal 2024.
PBB Umumkan Daftar Perusahaan yang Terlibat Genosida Gaza
Sumber di AS Ungkap Kepalsuan Pernyataan Trump Telah Hancurkan Total Nuklir Iran
Joko, salah satu pedagang perlengkapan sekolah di pasar tersebut, menyatakan bahwa meski musim libur sekolah telah tiba yang biasanya menjadi momentum kenaikan omzet pengunjung tetap sepi. Ia menyebut hanya satu hingga tiga pelanggan datang dalam sehari.
“Sudah dua tahun begini. Anehnya, waktu pandemi malah sempat ramai. Sekarang, jangankan jutaan, sejuta pun susah dapat,” ujar Joko.
Ia menambahkan bahwa peningkatan penjualan biasanya hanya terjadi ketika dana bantuan Kartu Jakarta Pintar (KJP) turun. Namun tahun ini, ia mengaku belum melihat tanda-tanda adanya lonjakan pembelian.
Selain persoalan daya beli, Joko menilai pergeseran perilaku belanja masyarakat ke platform online turut memperparah kondisi pasar. Pembelian seragam hingga alat tulis kini lebih banyak dilakukan secara digital.
Memanas, Ulama Iran Keluarkan Fatwa Terbaru: Pemimpin Ini Musuh Tuhan
Prabowo Resmikan Proyek Raksasa Baterai Listrik Rp97 Triliun
Hal serupa dirasakan Maya, pedagang emas muda di pasar itu. Ia mengatakan bahwa peningkatan pembeli hanya terjadi menjelang Lebaran, ketika harga emas naik. Setelah Lebaran, pelanggan justru datang untuk menjual kembali perhiasan yang sebelumnya mereka beli.
“Kami jual emas muda, jadi biasanya beli sebelum Lebaran, lalu dijual lagi setelahnya,” ungkap Maya.
Sementara itu, Marinah, pedagang warung makan di dalam pasar, mengeluhkan penurunan omzet secara drastis. Jika dulu ia bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 5 juta per hari, kini untuk mencapai ratusan ribu rupiah pun sulit.
“Dulu jam dua siang makanan sudah habis. Sekarang jam empat sore masih banyak sisa. Mau tak mau harga saya turunkan, tambah lauk untuk menarik pembeli,” ujarnya.
Marinah juga menyoroti ketimpangan antara pendapatan yang anjlok dengan kewajiban rutin yang tetap berjalan, seperti pembayaran listrik yang harus dibayar penuh tanpa keringanan.
Sejauh ini, pihak pengelola pasar telah memberikan izin peliputan dan pendampingan kepada tim media, namun enggan memberikan pernyataan resmi mengenai kondisi pasar yang terus merosot.
Realitas suram yang dihadapi pedagang di Pasar Kramat Jati akibat lesunya daya beli masyarakat, persaingan dengan toko online, dan kurangnya stimulus yang dapat menghidupkan kembali aktivitas pasar. Kondisi ini menyoroti persoalan serius dalam ekosistem perdagangan tradisional di tengah transformasi digital dan tekanan ekonomi pasca-pandemi.
Sumber: CNBC
Editor: Agusto Sulistio