Perang Modern dan Langkah Cerdas Iran Meninggalkan GPS Buatan AS

Jul 7, 2025

Ketika dunia dikejutkan oleh keputusan Iran yang secara resmi menghentikan penggunaan sistem navigasi GPS milik Amerika Serikat dan menggantikannya dengan sistem BeiDou buatan Tiongkok, bagi saya, ini bukan sekadar berita geopolitik biasa. Ada dorongan pribadi untuk menulis soal ini, berangkat dari hobi masa kecil saat duduk di bangku sekolah dasar, yang begitu tertarik pada dunia elektro, terutama perangkat yang berhubungan dengan frekuensi radio. Mulai dari radio transistor, membongkar mainan remote control berbasis gelombang FM, hingga cara kerja pemancar dan penerima gelombang, rasa ingin tahu itulah untuk ikuti perkembangan telekomunikasi digital hingga ke ranah yang lebih kompleks: sistem navigasi militer modern berbasis frekuensi.

Ketika navigasi satelit telah menjadi tulang punggung dalam operasi militer global, saya melihat bahwa pergeseran yang dilakukan Iran bukan hanya teknis, melainkan mencerminkan bagaimana perang masa depan akan ditentukan oleh siapa yang menguasai sinyal dan bukan hanya senjata. Keputusan Teheran menolak GPS bukanlah sekadar pengalihan sistem, melainkan manuver strategis yang merefleksikan babak baru dalam pertarungan global di era digital.

Terkait Teheran beralih menggunakan GPS AS telah dikabarkan oleh National Herald (India) pada 6 Juli 2025, bahwa Iran telah secara diam-diam memutus ketergantungannya pada sistem GPS yang selama ini dikendalikan Pentagon dengan menggantinya menggunakan BeiDou Tiongkok.

Informasi itu dapat dibuktikan sejauh mana rudal yang berbasis navigasi milik Iran mampu menembus pertahanan canggih Iron Dome Israel.

Banyak yang bertanya bagaimana mungkin rudal-rudal Iran, yang secara teknis tidak tergolong supersonik, mampu menembus sistem pertahanan tercanggih milik Israel, Iron Dome? Sebuah pertanyaan yang terus mengusik nalar. Menurut pandangan saya, justru terletak pada sesuatu yang tak kasat mata yakni sistem navigasi. Jadi keputusan Iran untuk memutus ketergantungan pada sistem GPS Amerika Serikat dan menggantinya dengan BeiDou milik Tiongkok bukan semata urusan teknis atau simbolik. Itu adalah langkah cerdas yang membuka jalan bagi pengendalian penuh atas sistem pemandu rudal, drone, dan senjata strategis lainnya. Navigasi yang tidak dapat diakses oleh sistem pengawasan AS, dan karena itu, tidak bisa diprediksi oleh sistem pertahanan seperti Iron Dome sekalipun.

Iron Dome dirancang untuk mengenali lintasan rudal masuk dengan membaca data awal dari radar dan kemudian memperkirakan titik jatuh. Sistem ini sangat efektif terhadap rudal-rudal standar yang menggunakan pola navigasi konvensional berbasis GPS, karena lintasannya bisa dihitung dengan presisi oleh sistem komputer pertahanan Israel.

Namun rudal-rudal Iran terbukti mampu menembusnya, bukan semata karena kecepatannya, tetapi karena lintasannya tidak bisa ditebak secara presisi. Mengapa? Karena ia tidak lagi menggunakan sinyal GPS Amerika yang dapat dipantau, dikalkulasi, dan bahkan dimanipulasi oleh sistem pertahanan berbasis intelijen Barat.

Dengan mengandalkan navigasi berbasis BeiDou dan sistem pemandu inersial (INS), rudal-rudal Iran bisa bermanuver secara tidak lazim, mengubah lintasan di tengah jalan, dan bahkan mengecoh sistem pelacak. Ini menciptakan efek kebingungan pada algoritma Iron Dome, yang biasanya membutuhkan prediksi akurat untuk mengirimkan rudal pencegat ke lokasi yang tepat.

Selama ini publik mengira bahwa rudal-rudal Iran berhasil menembus Iron Dome hanya karena kecepatannya. Padahal banyak di antaranya tidak mencapai kategori supersonik. Artinya, bukan kecepatannya yang menjadi senjata utama, melainkan ketidakpastian lintasannya. Dalam dunia militer, ketidakpastian adalah senjata ampuh. Rudal-rudal yang dikendalikan oleh sistem navigasi independen, yang tidak memancarkan sinyal GPS AS, menjadi hantu digital sulit dilacak, sulit dicegat.

Inilah logika militer modern yang kini dijalankan Iran menguasai arah tanpa membiarkan arah itu diketahui lawan.

Karena itulah maka dapat dipahami kemudian AS dan sekutunya Israel menggelorakan gencatan senjata. Tanpa bermaksud mengenyampingkan tujuan mulia perdamaian saya menilai ada kekhawatiran AS dan Israel terhadap alat tempur Iran yang secara nyata sulit dideteksi oleh radar dan satelit canggih AS. Dan jika hal ini terus dibiarkan maka kerugian bagi AS dan Israel akan semakin besar, meskipun kerusakan parah dan jumlah korban akibat konflik itu Iran lebih besar. Bagi AS dan Israel ini bukan lagi soal seberapa banyak jumlah korban, namun navigasi Iran sudah tak lagi dapat dilacak. Kedua belah pihak kini sama-sama sedang berhitung soal anggaran dan taktik strategi selanjutnya, AS yang telah kecolongan soal frekuensi oleh Iran dan sekutunya tentu AS akan terus mengembangkan sistem navigasinya agar kelak mampu memonitor secara presisi semua persenjataan Iran berbasis GPS.

Kemandirian Navigasi adalah Kemandirian Tempur

Langkah Teheran memutus GPS bukan hanya soal politik luar negeri, tetapi soal strategi bertahan dan menyerang. GPS, meskipun dikenal sebagai layanan global, sebenarnya berada di bawah kontrol militer AS. Iran memahami bahwa selama mereka bergantung pada sistem itu, semua lintasan rudal dan drone mereka bisa dipantau bahkan diganggu.

Dengan BeiDou, Iran mengunci akses luar terhadap jalur tempurnya. Rudal mereka menjadi seperti “pesawat tanpa jejak” yang hanya diketahui oleh pengendalinya. Maka tak mengherankan jika dalam beberapa serangan, sistem Iron Dome gagal merespons secara efektif karena ia kehilangan informasi paling dasar, navigasi target.

Kini, senjata bukan hanya yang bisa meledak. Tapi juga yang bisa sampai ke target tanpa bisa dicegat. Itulah makna sejati dari revolusi navigasi yang sedang terjadi. Di era ini, medan tempur tak hanya diukur dari jumlah misil atau jet tempur, tapi dari siapa yang mengendalikan jalur mereka dan siapa yang mampu menyembunyikannya.

Iran menunjukkan bahwa bahkan rudal yang sederhana sekalipun bisa menjadi mematikan jika ia tak bisa dideteksi secara digital. Di balik serangan yang kita lihat di televisi, sebenarnya ada pertarungan yang lebih sunyi di udara, di gelombang elektromagnetik, di antara bintang-bintang buatan di orbit rendah bumi.

Dan di sanalah, Iran saat ini sedang menang.

Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Mantan Div Rekayasa Sound System GNPF MUI 212 (konseptor sound radio transmitter)

Jakarta, Minggu 6 Juli 2025, 23: 18 Wib