10 Negara dengan Penduduk Berusia 100 Tahun Terbanyak

Jul 3, 2025

Foto: ilustrasi

Fenomena panjang umur kembali menjadi sorotan dunia seiring dengan meningkatnya jumlah centenarian, atau individu yang telah mencapai usia 100 tahun atau lebih. Data terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa pada tahun 2025, terdapat sekitar 630.000 orang di dunia yang telah melewati usia satu abad, dan menariknya, mayoritas mereka terkonsentrasi hanya di sepuluh negara.

Di antara negara-negara tersebut, Jepang berada di posisi puncak, baik dari segi jumlah absolut maupun rasio terhadap total populasi. Sebanyak 123.330 centenarian tercatat tinggal di Negeri Sakura, jauh melampaui Amerika Serikat (73.629 orang), Tiongkok (48.566), dan India (37.988). Jika dilihat dari rasio jumlah penduduk, Jepang mencatat sekitar 100 centenarian per 100.000 orang hanya kalah dari Hong Kong yang mencatat angka 133 per 100.000.

Komnas HAM Lanjutkan Penyelidikan Kasus Pembunuhan Munir

Trump Ancam Tangkap Cawalkot Muslim New York, Tuduh Imigran Ilegal

Menurut Solveig Cunningham, profesor dari Netherlands Interdisciplinary Demographic Institute, usia panjang masyarakat Jepang adalah hasil dari kombinasi faktor-faktor seperti pola makan tradisional yang sehat, aktivitas fisik rutin, dan lingkungan sosial serta budaya yang mendukung kualitas hidup.

“Jepang selalu berada di puncak semua daftar umur panjang,” ujar Cunningham, dikutip dari Euro News pada Rabu (2/7/2025). Ia juga menyarankan perlunya studi lebih lanjut terhadap imigran yang tinggal lama di Jepang, untuk melihat apakah pola hidup dan lingkungan di sana juga memengaruhi umur mereka.

Secara umum, Jepang memang dikenal memiliki angka harapan hidup tertinggi di dunia, dengan rata-rata umur 88 tahun untuk perempuan dan 82 tahun untuk laki-laki.

Fenomena ini juga menghidupkan kembali minat pada konsep “blue zones”, yakni wilayah-wilayah di dunia tempat penduduknya hidup lebih lama. Faktor-faktor yang kerap dikaitkan dengan umur panjang di zona ini meliputi pola makan berbasis tumbuhan, aktivitas fisik yang alami, hubungan sosial yang erat, serta spiritualitas atau makna hidup yang kuat.

Namun, tak sedikit ahli yang mengingatkan adanya kemungkinan bias data dalam pencatatan usia lanjut. Kesalahan administratif, catatan sipil yang tidak akurat, atau bahkan praktik penipuan sistem pensiun bisa menyebabkan angka centenarian terdistorsi.

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Wilayah Ini Waspada! Gempa Megathrust Hitungan Menit Picu Tsunami 20 Meter

Kematian Juliana Marins di Rinjani, Brasil Ancam RI ke Jalur Hukum Internasional

Meski begitu, konsistensi negara-negara seperti Jepang, Prancis, dan Italia dalam mencatat populasi usia lanjut menunjukkan bahwa data tersebut tidak sekadar anomali, melainkan cerminan dari sistem kesehatan dan gaya hidup yang mendukung penuaan sehat.

Cunningham menekankan bahwa tidak ada satu “resep ajaib” untuk hidup sampai 100 tahun. Meski sejumlah produk seperti minyak ikan, cokelat, atau anggur merah kerap diklaim memiliki khasiat memperpanjang usia, menurutnya pola hidup sehat secara menyeluruh jauh lebih berpengaruh.

“Yang paling penting adalah gaya hidup aktif, tidur cukup, pola makan bergizi, tidak merokok, menghindari alkohol, serta membina hubungan sosial yang sehat,” ujarnya.

Studi dan data semacam ini memberikan wawasan penting bagi pemerintah dan masyarakat dalam membentuk kebijakan dan gaya hidup yang mendukung penuaan sehat dan produktif, di tengah tren populasi dunia yang terus menua.

Editor: Agusto Sulistio