Ketegangan Iran-Israel Guncang Wall Street, Harga Minyak, Emas Naik

Jun 14, 2025

Bursa saham Amerika Serikat terguncang pada Jumat, 13 Juni 2025, setelah Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir Israel. Serangan ini memicu ketakutan baru akan memburuknya konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap perekonomian global.

Indeks utama Wall Street langsung merespons negatif. S\&P 500 jatuh lebih dari 1%, menghapus seluruh keuntungan yang dicatat sepanjang minggu. Saham-saham di sektor maskapai dan pariwisata terpukul paling keras, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan perjalanan dan ekonomi global. Sebaliknya, saham energi dan pertahanan justru menguat karena ekspektasi peningkatan permintaan dan belanja militer.

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu dampak paling mencolok. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,55% ke level US\$73,18 per barel. Minyak Brent juga naik 1,28% menjadi US\$75,18 per barel. Ketegangan yang meningkat ini menghidupkan kembali kekhawatiran pasar akan inflasi dari sisi suplai.

Aset safe haven seperti emas turut mencatatkan lonjakan signifikan. Harga emas spot naik 1,37% ke US\$3.432,34 per troy ounce, mendekati rekor tertinggi. Emas berjangka di bursa Comex juga naik 1,48% ke US\$3.452,80 per troy ounce. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik dan ekonomi yang membayangi.

Kondisi pasar obligasi pun terpengaruh. Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, mencerminkan pelarian investor ke aset aman dan kekhawatiran akan tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi. Indeks dolar AS justru naik tipis 0,31% ke 98,138, di tengah permintaan akan mata uang cadangan global.

Serangan balasan Iran dengan ratusan rudal itu merupakan tanggapan atas serangan udara Israel yang sebelumnya menghantam fasilitas militer dan nuklir di Teheran. Beberapa jenderal senior Iran dilaporkan tewas. Ini menjadi langkah paling agresif dari Iran sejak ketegangan terbaru meletus.

Louis Navellier, Chief Investment Officer di Navellier & Associates, menegaskan bahwa pasar minyak adalah yang paling rentan terhadap ketegangan ini. Jika konflik terus bereskalasi, tekanan terhadap inflasi bisa semakin besar dan mengganggu arah kebijakan moneter global.

Padahal, sebelum insiden ini, pasar berada dalam suasana optimistis. Data inflasi AS menunjukkan perlambatan, sementara negosiasi dagang antara AS dan China menunjukkan kemajuan. Namun sekarang, lonjakan harga energi menjadi variabel baru yang berpotensi mengganggu arah pemangkasan suku bunga oleh The Fed.

Presiden Donald Trump menyerukan agar Iran kembali ke meja perundingan untuk menghindari konflik yang lebih luas. Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberi sinyal akan ada serangan besar berikutnya, demi menghentikan ambisi nuklir Iran.

Analis dari Plante Moran, Jim Baird, menilai bahwa jika konflik tetap terbatas, lonjakan harga minyak bisa bersifat sementara. Namun, jika konflik menyebar ke wilayah lain di kawasan, lonjakan harga minyak bisa menjadi ancaman nyata bagi ekonomi dunia yang tengah rapuh.

Pasar pun mulai meragukan ekspektasi pemangkasan suku bunga. Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali sebelum akhir tahun, masing-masing 25 basis poin. Namun dengan ketegangan geopolitik dan lonjakan energi ini, arah kebijakan menjadi lebih tidak pasti. Fokus pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan, termasuk proyeksi ekonomi dan peta titik suku bunga terbaru.

Analis Barclays Plc memperingatkan kemungkinan kejutan hawkish dari The Fed, dengan potensi revisi naik terhadap proyeksi inflasi 2025 dan lebih sedikit pemangkasan suku bunga dari perkiraan semula.

Indeks volatilitas VIX, yang dikenal sebagai pengukur rasa takut investor, melonjak melewati level 20. Angka ini menunjukkan bahwa pasar telah beralih dari ketenangan menuju kecemasan.

Sebelum eskalasi terbaru, pasar saham AS sudah mencatat arus keluar besar. Data dari EPFR Global menunjukkan dana sebesar US\$9,8 miliar keluar dari pasar saham AS dalam sepekan terakhir, tertinggi dalam 11 minggu. Bahkan pasar saham Eropa, yang sebelumnya stabil, juga mencatat arus keluar untuk pertama kalinya tahun ini.

Situasi ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen pasar dapat berubah. Dari optimisme menuju kewaspadaan, semua tergantung pada bagaimana konflik Iran-Israel akan berkembang dalam waktu dekat.