Sumber di AS Ungkap Kepalsuan Pernyataan Trump Telah Hancurkan Total Nuklir Iran

Jun 24, 2025

Upaya Trump Hentikan Konflik Direspon Positif

Washinton/Tel Aviv/Istanbul, June 25, 20254:16 AM GMT+7 – Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran ternyata tidak berhasil menghancurkan kemampuan nuklir negara itu. Hasil penilaian awal intelijen AS menyebut bahwa serangan tersebut hanya menunda aktivitas Iran selama beberapa bulan jauh dari klaim Presiden Donald Trump yang menyatakan program nuklir Teheran telah dilenyapkan sepenuhnya.

Menurut tiga sumber terpercaya yang berbicara kepada Reuters, penilaian awal ini sudah dikompilasi oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA). Salah satu sumber bahkan menyebut bahwa cadangan uranium Iran tetap utuh, dan program nuklir mereka kemungkinan hanya mundur satu hingga dua bulan saja.

Pernyataan ini bertolak belakang dengan klaim publik Trump, yang menyebut bahwa serangan udara berhasil menghancurkan total fasilitas nuklir Iran. Gedung Putih kemudian membantah laporan intelijen itu, menyebutnya “sepenuhnya salah.”

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Waspada – Pakar Energi: Harga Minyak Mentah Dunia Akan Capai Sekian

Namun, pernyataan resmi yang disampaikan AS ke Dewan Keamanan PBB terkesan lebih berhati-hati. Di sana, pemerintah menyebut serangan hanya “melemahkan” kemampuan nuklir Iran berbeda jauh dari narasi Trump yang menyatakan penghancuran total.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa dalam perang 12 hari, negaranya telah menyingkirkan dua ancaman besar: pemusnahan nuklir dan serangan dari 20.000 rudal balistik Iran. Serangan mendadak Israel pada 13 Juni diklaim menargetkan fasilitas pengembangan bom atom dan menewaskan beberapa komandan militer senior Iran.

Iran bersikeras bahwa program nuklir mereka bertujuan damai dan menolak tuduhan ingin mengembangkan senjata nuklir. Sebagai balasan atas serangan Israel, Teheran meluncurkan rentetan rudal ke kota-kota Israel, yang untuk pertama kalinya menembus pertahanan udara mereka.

Gencatan senjata yang diumumkan Trump sempat menjadi titik terang. Namun, pelanggaran langsung dari kedua belah pihak Israel maupun Iran membuat kesepakatan ini tampak rapuh. Meskipun begitu, gencatan ini memberi jeda bagi kawasan untuk bernapas.

Trump dan Diplomasi yang Rumit

Trump, yang mengupayakan peran sebagai penengah, mengecam kedua pihak, namun justru lebih keras terhadap Israel. Ia menyatakan bahwa Israel “langsung menggempur” setelah menyetujui gencatan senjata, dan menyebut bahwa ia “harus menenangkan Israel sekarang.”

Gedung Putih menyatakan Trump dan timnya turut bernegosiasi dengan Israel dan Iran. Perdana Menteri Qatar bahkan membantu menyampaikan persetujuan gencatan senjata kepada Teheran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut berakhirnya perang sebagai “kemenangan besar,” dan menyatakan kesiapan Iran untuk menyelesaikan perbedaan dengan Amerika Serikat.

Kerentanan Gencatan dan Bahaya yang Masih Mengintai

Meski gencatan senjata mulai berlaku, ketegangan masih terasa. Israel mengklaim melakukan pembalasan terhadap radar Iran beberapa jam setelah kesepakatan dimulai, sementara Iran menyebut serangan Israel terjadi lebih dahulu. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan.

Menteri Pertahanan Israel menyatakan akan menghormati gencatan senjata selama Iran melakukannya. Iran pun mengutarakan hal serupa. Namun, rasa saling curiga masih mendalam.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa fase penting dari konflik telah berakhir, namun kampanye melawan pengaruh Iran—terutama lewat Hamas belum usai.

Komando militer Iran memperingatkan bahwa Israel dan AS sebaiknya belajar dari “pukulan telak” selama perang ini. Data dari otoritas Iran menyebutkan 610 orang tewas dan hampir 5.000 terluka akibat serangan Israel. Serangan balasan Iran menyebabkan 28 kematian di Israel kerugian yang luar biasa karena serangan rudal Iran berhasil menjebol sistem pertahanan Israel.

Dampak Global dan Harga Minyak

Gencatan senjata ini langsung berdampak pada pasar global. Harga minyak dunia anjlok, sementara pasar saham menguat, sebagai reaksi positif terhadap meredanya risiko konflik di kawasan Teluk yang menjadi jalur utama pasokan energi dunia.

Gencatan senjata ini memang memberi harapan, namun masih jauh dari penyelesaian permanen. Klaim Trump soal keberhasilan mutlak terbukti jauh dari kenyataan. Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa program nuklir Iran belum padam, dan ketegangan tetap membara di bawah permukaan.

Sumber: Reuters
Editor: Agusto Sulistio