Mutiara Hikmah, Dirgahayu TNI 81: POWER TAUHID di atas ALUTSISTA

Okt 4, 2026

Senin, 5 Oktober 2026

*Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh*

_Oleh: Prof. Eggi Sudjana (BES: Brother Eggi Sudjana)._

🇮🇩 *DIRGAHAYU TNI KE-81*

🌟 *QS. AL-ANFAL 8:19 — POWER TAUHID DI ATAS POWER ALUTSISTA*

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ تَسْتَفْتِحُوْا فَقَدْ جَآءَكُمُ الْفَتْحُ ۚ وَاِنْ تَنْتَهُوْا فَهُوَ خَيْرٌ لَّـكُمْ ۚ وَ اِنْ تَعُوْدُوْا نَـعُدْ ۚ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَّلَوْ كَثُرَتْ ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (memberi pertolongan); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 19)

🕌 Tepat pada 5 Oktober 2026, ketika bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI), ayat ini menjadi bahan renungan yang sangat penting.

Ayat tersebut bukan untuk melemahkan TNI.

Justru sebaliknya, ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan manusia, sebesar apa pun, tetap mempunyai batas.

TNI mempunyai prajurit, strategi, teknologi, intelijen, anggaran dan Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata).

Namun bagi orang beriman, seluruh kekuatan tersebut tetap berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Inilah yang disebut POWER TAUHID.

1️⃣ LOGIKA AL-QUR’AN TENTANG KEKUATAN

Allah berfirman:

وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ

“Dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya banyak.”

Pesan ayat ini sangat jelas.
Jumlah pasukan yang besar bukan jaminan mutlak keselamatan.

Senjata yang canggih bukan jaminan mutlak kemenangan.

Kekuatan ekonomi bukan jaminan mutlak keberhasilan.
Kecanggihan teknologi bukan pula jaminan bahwa manusia dapat mengendalikan seluruh keadaan.

Sebab ada kekuatan yang berada di luar seluruh perhitungan manusia, yaitu kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Karena itu ayat ini ditutup dengan:

وَاَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”

Inilah yang menjadi pelajaran besar dari Perang Badar.

Secara jumlah, kaum Muslimin berada dalam posisi yang jauh lebih sedikit dibandingkan kaum Quraisy. Namun kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah manusia dan perlengkapan perang.

Pelajaran utamanya adalah bahwa ikhtiar manusia harus disertai ketundukan kepada Allah.

Jadi, Power Tauhid bukan berarti manusia boleh mengabaikan strategi, teknologi dan kekuatan pertahanan.
Sebaliknya, seorang mukmin wajib berikhtiar sebaik-baiknya, tetapi tidak boleh menyembah kekuatan itu sendiri.

Senjata adalah alat.

Pasukan adalah alat.

Strategi adalah alat.

Kekuasaan adalah alat.

Sedangkan Allah adalah Pemilik seluruh kekuatan.

⚔️ 2️⃣ MENGAPA MANUSIA SERING MELUPAKAN POWER TAUHID?

Manusia kadang-kadang terlalu mudah silau oleh apa yang dapat dilihat dan dihitung.
Jumlah batalion dapat dihitung.
Jumlah kapal perang dapat dihitung.

Jumlah pesawat dapat dihitung.
Anggaran pertahanan dapat dihitung.

Teknologi dan kemampuan persenjataan dapat dianalisis.
Tetapi manusia tidak dapat menghitung seluruh ketetapan Allah.

Karena itu, ada tiga penyakit yang perlu kita waspadai.
Pertama, Hubbud Dunya.

Hubbud Dunya berarti kecintaan berlebihan kepada dunia.

Ketika manusia terlalu mencintai kekuasaan, kekayaan dan kekuatan material, alat yang seharusnya menjadi sarana dapat berubah menjadi seolah-olah tujuan akhir.

Kedua, sombong terhadap data dan kekuatan material.
Data dan analisis sangat penting.

Intelijen sangat penting.

Strategi sangat penting.

Namun semuanya tetap merupakan ikhtiar manusia.

Tidak boleh ada kesombongan seolah-olah seluruh kemungkinan kehidupan sudah dapat diprediksi hanya melalui angka, data dan kalkulasi manusia.

Ketiga, tidak tahu diri dan tidak tahu batas.

Inilah istilah yang penting untuk direnungkan.

Tahu diri berarti menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk.

Tahu batas berarti menyadari bahwa kekuasaan manusia mempunyai batas.

Sedangkan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak mempunyai batas.

Maka, semakin besar kekuatan seseorang atau sebuah institusi, seharusnya semakin besar pula kesadaran bahwa kekuatan tersebut adalah amanah.

🇮🇩 3️⃣ DIRGAHAYU TNI KE-81
Pada 5 Oktober 2026, mari kita mengucapkan:

*DIRGAHAYU TNI KE-81.
TNI BERJAYA SELALU DAN DIBERKAHI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.*

TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara adalah bagian penting dari kekuatan pertahanan negara.

Kekuatan TNI harus senantiasa berpihak kepada kepentingan bangsa dan negara serta berdiri bersama rakyat.

Karena itu, semakin kuat TNI, semakin penting pula menjaga moral, disiplin, profesionalisme dan ketundukan kepada hukum.
Kekuatan senjata harus berada di bawah kendali negara dan hukum.

Kekuatan prajurit harus berada di bawah sumpah dan amanah.
Dan seluruh kekuatan tersebut harus dipergunakan untuk melindungi rakyat serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Inilah makna penting dari Tahu Diri dan Tahu Batas.

Bukan berarti melemahkan kekuatan TNI.

Justru agar kekuatan TNI menjadi kekuatan yang bermartabat.

⚖️ 4️⃣ RENUNGAN TENTANG KEKUATAN DAN KEADILAN

Dalam catatan BES, renungan tentang Power Tauhid juga dikaitkan dengan persoalan KM 50 yang melibatkan anggota Front Pembela Islam (FPI) dan wafatnya enam orang.

Persoalan ini menjadi bagian dari ingatan dan perdebatan publik yang belum sepenuhnya selesai dalam kehidupan kebangsaan.

Karena itu, pesan yang perlu ditekankan bukanlah balas dendam.

Bukan pula mempertentangkan TNI dengan umat Islam.

Justru yang harus dikedepankan adalah kebenaran, keadilan dan penyelesaian yang beradab berdasarkan hukum.

Jika terdapat persoalan yang masih dipertanyakan masyarakat, maka keterbukaan fakta menjadi penting.
Keadilan bagi keluarga korban harus dihormati.

Dan yang tidak kalah penting adalah memastikan agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi dalam hubungan antara aparat negara dengan masyarakat.

Sebab kekuatan negara yang besar seharusnya menghadirkan rasa aman bagi rakyat.

Kekuatan tanpa keadilan dapat menimbulkan ketakutan.

Kekuatan yang dibimbing keadilan akan melahirkan kepercayaan.

🤲 5️⃣ POWER TAUHID BUKAN BERARTI MENOLAK KEKUATAN NEGARA

Hal ini perlu dipahami dengan baik.

Power Tauhid bukan berarti umat Islam menolak TNI.

Power Tauhid juga bukan berarti manusia tidak perlu membangun pertahanan yang kuat.

Justru Islam mengajarkan pentingnya ikhtiar, kesiapan dan tanggung jawab.

Yang harus dihindari adalah menganggap kekuatan manusia sebagai kekuatan mutlak.

Karena sebesar apa pun kekuatan negara, tetap ada batasnya.

Sebaliknya, sebesar apa pun ancaman yang dihadapi, manusia tidak boleh kehilangan keyakinan kepada Allah.

Dalam konteks ini, contoh hubungan Amerika Serikat dan Iran yang disebut dalam catatan BES dapat dijadikan bahan refleksi mengenai keterbatasan kekuatan material.

Namun setiap konflik internasional mempunyai faktor yang sangat kompleks, sehingga tidak tepat jika seluruh hasilnya semata-mata dijelaskan hanya dengan satu variabel, yaitu kekuatan militer atau Power Tauhid.

Bagi seorang mukmin, yang terpenting adalah mengambil ibrah, yaitu pelajaran bahwa manusia tidak boleh sombong terhadap kekuatan yang dimilikinya.

👑 6️⃣ PESAN UNTUK PRESIDEN SEBAGAI PANGLIMA TERTINGGI

Presiden Republik Indonesia merupakan Panglima Tertinggi atas TNI.

Karena itu, pesan moral dari QS. Al-Anfal ayat 19 juga relevan untuk seluruh pengambil keputusan negara.

Kekuatan pertahanan harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.

Keputusan mengenai keamanan dan pertahanan harus mempertimbangkan keselamatan rakyat.

Setiap penggunaan kekuatan harus mempunyai dasar hukum yang jelas.

Dan setiap pemegang kekuasaan harus menyadari bahwa kekuasaan tersebut pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban.

Ayat ini mengajarkan:

Jika manusia meminta keputusan, Allah telah memberikan petunjuk.
Jika manusia berhenti dari permusuhan dan kezaliman, itu lebih baik baginya.

Jika manusia kembali kepada kesalahan dan kezaliman, maka akibatnya akan kembali kepada dirinya.

Dengan demikian, kekuatan sejati bukan hanya kemampuan untuk mengalahkan lawan.

Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan.

🌿 7️⃣ TNI YANG KUAT ADALAH TNI YANG BERINTEGRITAS

TNI tidak hanya membutuhkan Alutsista yang canggih.
TNI membutuhkan prajurit yang disiplin.

TNI membutuhkan pemimpin yang berintegritas.

TNI membutuhkan keberanian.
TNI membutuhkan profesionalisme.

TNI membutuhkan kecerdasan.
Dan yang tidak kalah penting, TNI membutuhkan kesadaran bahwa seluruh kekuatan tersebut adalah amanah.

Karena itu:
TNI kuat bukan hanya karena senjata.
TNI kuat karena profesionalisme.

TNI kuat karena disiplin.
TNI kuat karena persatuan.
TNI kuat karena bersama rakyat.
Dan bagi orang beriman, seluruh kekuatan tersebut akan semakin bermakna apabila digunakan dalam jalan yang diridai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

🇮🇩 KESIMPULAN
QS. Al-Anfal ayat 19 mengajarkan kepada kita bahwa jumlah yang banyak tidak selalu menjamin kemenangan dan kekuatan material tidak pernah menjadi kekuatan mutlak.

Manusia wajib berikhtiar.
Negara wajib membangun pertahanan.

TNI wajib profesional.
Alutsista harus modern.
Intelijen harus kuat.

Strategi harus matang.
Tetapi semuanya harus disertai kesadaran bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah Pemilik kekuatan yang hakiki.
Karena itu, semakin besar kekuatan yang kita miliki, semakin besar pula kewajiban kita untuk tahu diri, tahu batas, menjunjung hukum, menjaga keadilan dan melindungi rakyat.
Dirgahayu TNI ke-81.

Semoga TNI semakin profesional, semakin kuat, semakin dekat dengan rakyat, semakin teguh menjaga NKRI dan senantiasa mendapat perlindungan serta keberkahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Power Alutsista adalah kekuatan yang terlihat.

Power Tauhid adalah kesadaran bahwa di atas seluruh kekuatan manusia terdapat kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Wallahu A’lam Bish-Shawab.

*Salam Jihad dan Sabar, BES – Brother Eggi Sudjana*