Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Setelah melalui rangkaian proses seleksi dan pengembangan karya, mulai dari roadshow, workshop, pitching proposal, mentoring, hingga produksi, sebanyak 13 kelompok seni
terpilih dalam Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2026 siap menampilkan karya mereka di Galeri Indonesia
Membuka rangkaian pementasan tahun ini, Sanggar Ori dari Gunungkidul, Yogyakarta, hadir dengan karya teater berjudul GRES! yang mengangkat dinamika kehidupan masyarakat pedesaan.
Melalui kisah seputar tradisi hajatan supitan (khitanan), relasi keluarga, serta tekanan sosial yang mewarnai kehidupan
sehari-hari, pertunjukan ini mengajak penonton melihat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
GRES! dipentaskan sebanyak dua kali pada 7 November 2026 di Galeri IndonesiaKaya.
Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya mengungkapkan, ruang Kreatif Seni Pertunjukan merupakan bagian dari komitmen kami untuk tumbuh bersama Indonesia melalui ekosistem seni pertunjukan.
“Kami berharap kesempatan ini tidak hanya menjadi ruang bagi para seniman
untuk menampilkan karya, tetapi juga memperluas perspektif dan mendorong lahirnya praktik seni pertunjukan yang semakin beragam dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Salah satunya melalui GRES! dari Sanggar Ori yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat Gunungkidul dan berhasil mengolahnya menjadi pertunjukan yang menghibur dan bernilai bagi penonton,” ujar Renitasari Adrian
Dalam GRES!, penonton diajak mengikuti kisah sebuah keluarga yang mendadak harus menghadapi persiapan khitanan setelah Alif, anak berusia 12 tahun, mengalami insiden tak terduga saat mengenakan celana.
Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi rangkaian situasi yang mengundang kekacauan sekaligus kelucuan. Di tengah situasi itu, Siti dan Seno, orang tua Alif, harus mencari biaya untuk pelaksanaan supitan beserta slametan yang ingin diselenggarakan sesuai adat setempat.
Dari peristiwa sederhana tersebut, GRES! memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga berhadapan dengan tradisi, tuntutan lingkungan, dan berbagai pertimbangan sosial di tengah kehidupan kampung.
Untuk memperkuat pengalaman penonton, pertunjukan ini didukung oleh 10 Orang pemain yang memerankan karakter-karakter dalam cerita, serta elemen artistik berupa suasana lingkungan dalam rumah di pedesaan. Unsur musik dan tata cahaya turut dirancang untuk membangun
suasana, memperkuat dinamika komedi, serta mendukung perubahan emosi dalam setiap adegan.
Jevi Adhi Nugraha, Sutradara Sanggar Ori, menjelaskan, bahwa hajatan supitan sampai saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di lingkungan kami, Gunungkidul. Kami melihat ada banyak cerita yang biasa diangkat dari tradisi ini, terutama dinamika keluarga dan masyarakat di balik penyelenggaraan
sebuah hajatan.
“Melalui GRES!, kami ingin mengajak penonton melihat realitas tersebut dari sudut pandang yang lebih ringan melalui komedi keluarga, tetapi tetap menyimpan ruang refleksi. GRES! juga merupakan karya yang kami persiapkan khusus untuk mengikuti Ruang Kreatif Seni Pertunjukan,” terangnya.
Rangga Buana, mentor kreatif untuk Sanggar Ori, menyampaikan, bahwa salah satu hal menarik dari GRES! adalah keberanian kelompok untuk menjadikan realitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat sebagai bahan penciptaan.
Lanjutnya, tantangannya adalah bagaimana pengalaman sehari-hari tersebut tidak hanya dipindahkan ke atas panggung, tetapi diolah menjadi sebuah pertunjukan dengan sudut pandang dan bahasa artistik yang kuat.
“Dalam proses pendampingan, kami mendorong kelompok untuk terus mempertajam pilihan dramatik, karakter, serta hubungan antara humor dan kritik sosial agar pesan karya dapat tersampaikan tanpa kehilangan daya hiburnya,” pungkasnya.
Kontributor : Amhar Batu AttoZ