Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Tidak ada satu cara untuk mendefinisikan bagaimana seorang perempuan bertumbuh. Melalui “Puspa Nala”, koleksi anniversary kesembilan VAIA, empat perempuan hadir membawa perspektif berbeda tentang proses, nilai, dan perjalanan yang membentuk diri mereka.
Terinspirasi dari bunga yang memiliki waktunya sendiri untuk mekar, Puspa Nala menjadi perayaan terhadap berbagai bentuk perjalanan perempuan. Fanie Balqis, Founder & Creative Director VAIA, menjadi bagian dari cerita ini melalui tema “Creating with Intention”, yang
merefleksikan perjalanan sembilan tahunnya dalam membangun dan mengembangkan VAIA.

“Saya percaya setiap perempuan memiliki prosesnya masing-masing. Tidak ada satu ukuran yang menentukan kapan seseorang harus tumbuh atau menjadi sesuatu. Puspa Nala adalah cara kami untuk merayakan perjalanan tersebut,” ujar Fanie pada media di Jakarta pada Jum’at (11/9/2026)
Tiga muse lainnya membawa cerita yang melengkapi perspektif tersebut. Adalah Winona Willy merepresentasikan “Blooming through Care”, tentang pertumbuhan yang hadir melalui perhatian dan kepedulian.

Lalu, Karina Salim membawa “Resilient in Pursuing Ambition”, tentang keteguhan dalam mengejar tujuan, sementara Kushandari Arfanidewi melalui “Rooted in
Culture” merefleksikan pentingnya tetap terhubung dengan akar dan nilai budaya.
Keempatnya memiliki perjalanan yang berbeda, namun bertemu dalam satu gagasan bahwa pertumbuhan bukanlah sesuatu yang seragam.
Bagi VAIA, cerita tersebut juga merefleksikan perjalanan brand selama sembilan tahun. Berawal dari footwear, VAIA terus berkembang menjadi lifestyle brand yang menghadirkan berbagai produk untuk menemani perempuan dalam berbagai fase kehidupannya.
Puspa Nala menjadi perayaan atas perjalanan tersebut sekaligus pengingat bahwa seperti bunga yang tumbuh dengan caranya sendiri, setiap perempuan memiliki waktunya sendiri untuk berkembang dan mekar.
Kontributor : Amhar Batu AttoZ