Keyakinan Konsumen Melemah, Tabungan Terkuras dan Pendapatan Menurun

Jul 9, 2025

Kondisi keuangan masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Di tengah ketidakpastian global akibat perang dagang yang berkepanjangan, konsumen dalam negeri semakin merasakan tekanan ekonomi, terutama dari sisi penghasilan, tabungan, dan lapangan pekerjaan.

Survei Konsumen yang dirilis Bank Indonesia pada 7 Juli 2025 mencerminkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih rapuh. Konsumen dari berbagai lapisan mengaku sulit menabung karena pendapatan yang stagnan bahkan menurun, sementara kebutuhan konsumsi justru meningkat. Situasi ini diperparah dengan beban utang yang tak kunjung berkurang.

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Wilayah Ini Waspada! Gempa Megathrust Hitungan Menit Picu Tsunami 20 Meter

Teori The Prince dan Cara Jokowi Berkuasa.

Uang Mengalahkan Hukum: Warisan Jokowi dan Beban Pemerintahan Baru

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) pada Juni hanya naik tipis 0,3 poin. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum masyarakat belum merasakan perubahan berarti dari kondisi ekonomi dibanding enam bulan lalu. Bahkan di kalangan konsumen dengan pengeluaran tinggi (lebih dari Rp5 juta per bulan), indeks mengalami penurunan hingga 4,2 poin ke posisi 106,1. Penurunan serupa terjadi di kalangan konsumen dengan pengeluaran di bawah Rp2 juta per bulan yang indeksnya jatuh ke angka 96,2 zona pesimistis terendah sejak April 2022.

Dari tiga komponen utama IKE, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja mengalami penurunan paling signifikan, turun 1,6 poin menjadi 94,1. Ini menjadi tanda bahwa mayoritas konsumen masih melihat kondisi lapangan kerja saat ini sebagai buruk, bahkan lebih buruk dibanding enam bulan sebelumnya.

Terutama di kelas menengah atas dan atas, persepsi terhadap penghasilan juga menurun drastis. Kalangan ini merasa bahwa kondisi pendapatan mereka semakin berat, dan ekspektasi untuk perbaikan penghasilan dalam enam bulan ke depan juga terus menurun. Indeks ekspektasi penghasilan merosot di semua kelompok konsumen, yang mencerminkan ketakutan mereka terhadap penurunan daya beli lebih lanjut.

Salah satu indikator krusial lainnya adalah Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (durable goods), yang menjadi gambaran nyata dari daya beli masyarakat. Pada Juni, meskipun ada sedikit kenaikan indeks ini secara umum, konsumen dengan pengeluaran terendah mencatat penurunan tajam hingga masuk ke zona pesimistis di angka 95,9 terendah sejak Oktober 2023.

Situasi ini semakin kompleks ketika melihat bagaimana masyarakat mencoba bertahan. Tabungan sebagai penyangga kondisi keuangan justru terkuras. Rasio tabungan nasional menurun ke level terendah sejak Maret 2025, sementara pengeluaran konsumsi meningkat karena kebutuhan musim liburan sekolah dan perayaan Idul Adha. Yang mencolok, penurunan tabungan terjadi bersamaan dengan meningkatnya rasio utang, terutama di kelas konsumen terbawah yang mencatat lonjakan pengeluaran untuk cicilan sebesar 2,1 poin persentase.

Pemerintah sebenarnya telah meluncurkan berbagai stimulus, termasuk subsidi upah dalam paket senilai Rp24,4 triliun sejak Juni lalu. Namun, efek kebijakan tersebut belum terlihat dalam bentuk pemulihan kepercayaan konsumen secara nyata.

Walaupun indeks ekspektasi terhadap kegiatan usaha enam bulan ke depan masih menunjukkan tren optimistis dengan kenaikan 1,5 poin, keyakinan tersebut tidak merata. Kalangan menengah dan atas justru menunjukkan penurunan kepercayaan meskipun masih bertahan di zona positif.

Kesimpulannya, kondisi ekonomi rumah tangga Indonesia sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah: penghasilan yang melemah, peluang kerja yang sempit, tabungan yang menipis, dan utang yang terus menumpuk. Jika tidak ada perbaikan konkret dari sisi lapangan pekerjaan dan penguatan daya beli, kekhawatiran terhadap kelesuan ekonomi berkepanjangan bukanlah isapan jempol belaka.

Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia, Selasa, 7 Juli 2025.

Editor: Agusto Sulistio