Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan komitmennya terhadap perdamaian global dan kemerdekaan Palestina dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang digelar di MAM, Brasil, pada Senin, 7 Juli 2025. Dalam forum strategis negara-negara berkembang tersebut, Prabowo mengangkat kembali semangat “Bandung Spirit”, warisan Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung yang menjadi landasan solidaritas antara negara-negara Asia dan Afrika.
Bandung Spirit adalah simbol perjuangan melawan kolonialisme dan ketimpangan global, serta mendorong kerja sama antarnegara berkembang dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam forum BRICS yang kini beranggotakan negara-negara besar seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, serta mitra baru dari Global South, Prabowo menyerukan agar semangat tersebut kembali menjadi panduan arah kerja sama internasional.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang turut hadir dalam pertemuan, Prabowo menolak segala bentuk perang dan standar ganda dalam hubungan internasional. Ia juga menekankan perlunya reformasi sistem multilateral dan peningkatan representasi negara-negara berkembang dalam lembaga-lembaga global seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Prabowo menyatakan dukungan terhadap New Development Bank (NDB) milik BRICS agar semakin aktif mendanai proyek-proyek prioritas negara berkembang, terutama dalam bidang energi bersih, infrastruktur hijau, dan transisi energi yang berkeadilan. Dalam pandangannya, kerja sama ekonomi lintas negara berkembang menjadi krusial di tengah ketidakpastian global.
Lebih jauh, pertemuan BRICS 2025 menghasilkan empat pilar kesepakatan yang diteken seluruh anggotanya. Pertama, penguatan kerja sama dan reformasi tata kelola global. Kedua, promosi perdamaian, stabilitas internasional, serta pendalaman kerja sama ekonomi dan keuangan. Airlangga menyebut kesepakatan ini membuka peluang pasar baru bagi produk Indonesia di tengah krisis global.
Poin ketiga menekankan komitmen terhadap perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan yang adil, menekankan bahwa transisi energi harus memperhatikan keadilan bagi negara berkembang. Terakhir, pilar keempat adalah penguatan kemitraan dalam pembangunan manusia, sosial, dan kebudayaan yang inklusif.
Keterlibatan aktif Indonesia di BRICS 2025 menunjukkan arah baru diplomasi luar negeri yang lebih tegas dalam memperjuangkan keadilan global. Dengan menghidupkan kembali semangat Bandung di panggung internasional, Prabowo menandai tekad Indonesia untuk menjadi jembatan antara negara berkembang dalam membangun dunia yang lebih adil dan seimbang.
(Agt/PM)