Sampaikan Memorial Lecture 2026, Gono Semiadi Soroti Flora dan Fauna

Agu 25, 2026 #Memorial Lecture 2026

Pikiranmerdeka.com, Jakarta – Orasi Ilmiah Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture Tahun 2026 disampaikan oleh Prof. Dr. Gono Semiadi, peneliti BRIN yang selama empat dekade menekuni penelitian satwa liar dan konservasi keanekaragaman hayati.

Kegiatan tersebut yang diselenggarakan pada hari Senin, 24 Agustus 2026 berlangsung di Auditorium Gedung. BJ. Habibie, Thamrin, Jakarta Pusat, Prof. Dr. Gono menyoroti ancaman terhadap flora dan fauna.

Dalam kesempatan paparannya tersebut, Prof. Gono Semiadi menyoroti jenis tumbuhan dan satwa khas Kalimantan yang berpotensi terdampak akibat kebakaran. Ia memberikan contoh pohon yang dikenal memiliki ketahanan terhadap panas dan kondisi lingkungan ekstrem.

“Kalau tumbuhan itu kan kayak istilahnya apa, kayu besi. Kayu besi itu kan dikenal sangat tahan panas, tahan segala rupa, yaitu kayu hitam,” jelasnya.

Namun, menurutnya, ketahanan pohon induk terhadap panas dan kebakaran tidak otomatis berarti generasi berikutnya juga mampu bertahan.

“Tapi pertanyaannya, apakah seedling, anak-anakannya itu, mereka mampu hidup, bertahan ketika adanya kebakaran semacam ini? Mungkin yang disebut dewasa, pohon induk, terbakar, hilang itu daun. Mungkin dia bisa regrowth. Tapi pertanyaannya kan tidak hanya bicara pohon induk. Anak-anak yang ada di bawah itu, kan sebagai generasi penerus,” katanya.

Hal tersebut menjadi salah satu tantangan besar dalam upaya pemulihan ekosistem karena keberlangsungan biodiversitas tidak hanya bergantung pada pohon-pohon dewasa, tetapi juga pada regenerasi alami.

Sementara dari sisi satwa, Prof. Gono mencontohkan orangutan yang sangat bergantung pada keberadaan pohon tinggi dan kanopi sebagai jalur untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Kalau hewan, semuanya akan kembali seperti orangutan. Orangutan, tadi Pak Yatnes menyampaikan bahwa dia sangat tergantung pada pohon tinggi, kanopi tinggi. Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi yang saling punya connectivity di antara daun,” ungkapnya.

Menurut dia, keberadaan pohon dalam jumlah banyak belum tentu menjamin habitat satwa tetap berfungsi apabila tidak terdapat konektivitas antarkanopi.

“Sekarang harus kita lihat apakah konektivitas antarbatang di percabangan di puncak sana itu ada atau tidak. Kalau tidak ada, biarkan di situ ada 100 tegakan pohon, tapi tidak ada konektivitas, berarti habitat dari pergerakannya sudah hilang,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala BRIN, Arif Satria dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa BRIN bekerja sama dengan LPDP memandang perlu memberikan penghargaan tertinggi secara berkelanjutan kepada individu, baik dari internal maupun eksternal BRIN.

Dia tambahkan, Penghargaan tersebut diwujudkan melalui pemberian anugerah serta ruang terhormat bagi para ilmuwan untuk menyampaikan orasi ilmiah.

“Penghargaan ini diberikan kepada sosok-sosok ilmuwan yang telah memiliki reputasi nasional dan internasional, serta memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.

Mengenal Prof. Dr. Gono Semiadi

Karier Gono sebagai peneliti dimulai langsung sejak lulus perguruan tinggi, ditempatkan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi LIPI mulai 1985, berpindah ke Pusat Penelitian Biologi LIPI, dan dilanjutkan ke BRIN pada 2022, dengan penempatan awal di Pusat Riset Ekologi dan Etnobotani, kemudian ke Pusat Riset Zoologi Terapan, dan terakhir berlabuh di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi hingga kini.

Dalam rentang panjang itu, penelitian tidak berhenti di laboratorium. Ia sempat memimpin Laboratorium Reproduksi Satwa, Puslit Biologi LIPI, terlibat membantu sebagai sub kurator kelompok mamalia besar di Museum Zoologicum Bogoriense LIPI, serta mengembangkan kajian pengelolaan satwa liar, reproduksi, domestikasi, konservasi spesies, dan pemanfaatan berkelanjutan.

Perjalanan lapangan membawanya ke berbagai bentang alam Indonesia, termasuk mengoordinasikan Ekspedisi LENGGURU Papua, sebagai liaison officer pada project Global Species Management Plan (GSMP)-Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), serta berbagai survei keanekaragaman hayati di kawasan hutan, karst, wilayah konsesi hutan, habitat satwa terancam dan kawasan pertambangan di Jawa, Maluku, Sulawesi, hingga Sabah-Malaysia.

Ia terlibat dalam penilaian status keterancaman berbagai satwa mamalia bersama IUCN Red List, membina pengelolaan populasi satwa di kawasan konservasi, melakukan penilaian pengelolaan kebun binatang, menulis dokumen tentang pengembangan strategi konservasi, serta melakukan berbagai kerja sama penelitian tingkat nasional dan internasional.

Ia juga menjadi Koordinator Indonesian Scientific Authority CITES di tahun 2018-2019 dan Manajer Kebijakan pada Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekragaman Hayati-BRIN (SKIKH) dari 2020 hingga 2025.

Jejak internasionalnya kemudian semakin menonjol dengan penempatan pada forum global Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) dibawah PBB, dengan menjadi koordinator National Focal Point Indonesia dari 2018–2025.

Kontributor : Amhar Batu AttoZ