Serangan Udara Israel Hancurkan Gedung Kemhan Negara Arab di Suriah

Jul 17, 2025

Serangan udara Israel kembali mengguncang kawasan Timur Tengah. Pada Rabu, 16 Juli 2025, rudal-rudal militer Israel dilaporkan menghantam gedung Kementerian Pertahanan Suriah dan area strategis di dekat istana presiden di pusat kota Damaskus. Serangan ini menjadi salah satu aksi militer paling signifikan sejak meningkatnya ketegangan antara Israel dan pemerintahan Suriah dalam beberapa bulan terakhir.

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Waspada! Harga Pangan Naik-Turun, Berapa Harga Beras, Gula, dan Minyak Saat Ini?

Syahganda Nainggolan: Konsekuensi Bergabung dengan BRICS Sangat Serius

Menurut laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Suriah, sedikitnya lima anggota pasukan keamanan tewas dalam serangan tersebut. Namun, organisasi pemantau HAM dan sumber medis menyebutkan jumlah korban jauh lebih besar. Di wilayah Sweida, bentrokan dan kekerasan yang berlangsung beberapa hari terakhir diperkirakan telah menewaskan hingga 350 orang, termasuk 27 warga sipil dari komunitas Druze.

Israel mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan langkah perlindungan terhadap komunitas Druze, yang merupakan kelompok minoritas religius yang juga terdapat di wilayah Israel. Pemerintahan sementara Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa disebut oleh otoritas Israel sebagai kelompok Islamis radikal yang mengancam keberadaan minoritas, termasuk Druze.

Mamdani, Ibrahim Traore dan Prabowo Subianto: Tantangan Melawan Oligarki

MENUJU DUNIA MULTIPOLAR, APA PILIHAN PRABOWO?

Pascakejadian, ketegangan juga meningkat di wilayah Israel. Sejumlah warga Druze menggelar aksi protes, bahkan sebagian dari mereka dilaporkan menyeberangi perbatasan untuk membantu kerabat mereka di Suriah. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengimbau warga Druze untuk tidak mengambil tindakan sendiri, seraya menyatakan bahwa militer Israel “sedang berupaya menyelamatkan mereka yang terjebak di Suriah.”

Di tengah tekanan internasional, termasuk dari Amerika Serikat, pemerintah Suriah akhirnya mengumumkan akan menarik pasukan dari kota Sweida sebagai bagian dari perjanjian damai yang telah disepakati. Namun, laporan dari saksi mata dan kelompok pemantau HAM menunjukkan bahwa pasukan pemerintah masih terlihat aktif di lapangan. Bahkan disebutkan bahwa unsur militer Suriah terlibat dalam serangan terhadap warga Druze bersama kelompok bersenjata dari komunitas Badui.

Kupas Tuntas Keuangan PT PP Tbk Menuju Transparansi Publik

Komunitas Druze sendiri merupakan kelompok minoritas religius yang menganut ajaran tersendiri, bercabang dari Islam, dan tersebar di Suriah, Lebanon, serta Israel. Dalam sejarah panjang konflik di Timur Tengah, Druze kerap terjebak di antara konflik kekuasaan dan militer. Dalam krisis terbaru ini, nasib komunitas tersebut kembali menjadi sorotan internasional, terutama menyangkut isu perlindungan terhadap kelompok minoritas dalam perang yang makin kompleks.

Konflik ini menyoroti kembali persoalan mendasar di kawasan Timur Tengah: rentannya kelompok minoritas di tengah tarik-menarik geopolitik dan pertikaian ideologi bersenjata. Masyarakat internasional dihadapkan pada pilihan sulit, antara menjaga stabilitas kawasan dan memastikan perlindungan hak asasi manusia bagi kelompok-kelompok rentan yang terjebak di tengah badai.

Sumber: Reuters
Editor: Agusto Sulistio