Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran, memicu kekhawatiran global akan potensi penutupan Selat Hormuz jalur vital bagi 20% distribusi minyak dan gas dunia.
Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya dua supertanker, “Coswisdom Lake” dan “South Loyalty”, melakukan putar balik menjauhi selat tersebut. Sebelumnya, kapal-kapal itu hendak memuat minyak dari Irak dan Uni Emirat Arab untuk dibawa ke Tiongkok.
Harga minyak langsung merespons: Brent dan WTI melonjak ke titik tertinggi dalam lima bulan terakhir. Tarif pengangkutan supertanker juga melonjak dua kali lipat menjadi lebih dari 60.000 dolar per hari.
Sinyal kehati-hatian juga terlihat dari banyak kapal lain. Beberapa memilih berlayar lebih dekat ke Oman, sebagian menunda pelayaran atau berlabuh di pelabuhan UEA seperti Fujairah. “Kapal kini hanya akan memasuki Selat Hormuz saat mendekati waktu pemuatan,” ujar KY Lin dari Formosa Petrochemical, Taiwan.
Perusahaan pelayaran Jepang seperti Nippon Yusen dan Mitsui O.S.K. Lines juga telah mengeluarkan instruksi agar kapal mereka meminimalkan waktu di Teluk.
Sementara itu, parlemen Iran dikabarkan telah menyetujui wacana penutupan Selat Hormuz, meskipun implementasinya masih menunggu keputusan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Iran memang sudah berulang kali melontarkan ancaman serupa, namun belum pernah benar-benar menutup jalur strategis ini.
Pakar dari firma hukum global Clyde & Co menegaskan, pemting bagi dunia untuk belajar dari krisis sebelumnya seperti di Laut Merah: “Diversifikasi pasokan dan rute pelayaran sangat krusial untuk menjaga stabilitas.”
Sumber: Reuters
Editor: Agusto Sulistio