Efek Gabung BRICS? Ancaman Tarif Trump 2025 Nyata, Rupiah Melemah!

Jul 7, 2025

Foto: Presiden Amerika Serikat Donald Trump geram terhadap negara anggota BRICS termasuk Indonesia lantaran mengecam perang tarif yang dikobarkannya. (Foto: REUTERS/Carlos Barria)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh rencana kebijakan tarif dari Presiden AS, Donald Trump. Hingga pukul 12:00 WIB Senin 7 Juli 2025, kurs rupiah di pasar spot tercatat berada di level Rp16.239 per dolar AS, melemah 0,33% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.

Pelemahan rupiah ini terjadi sejak awal perdagangan pagi dan terus berlanjut hingga siang hari. Fenomena serupa juga menimpa sejumlah mata uang utama Asia, seperti baht Thailand, yen Jepang, rupee India, dan peso Filipina. Di antara negara-negara Asia, rupiah berada di posisi kelima terlemah terhadap dolar AS hingga perdagangan siang.

Penyebab utama melemahnya mata uang-mata uang Asia ini adalah sentimen negatif dari kebijakan dagang Amerika Serikat. Pada April 2025 lalu, Presiden Trump mengumumkan rencana penerapan tarif bea masuk resiprokal terhadap lebih dari 60 negara. Skema tarif ini dirancang berdasarkan besar kecilnya surplus perdagangan masing-masing negara terhadap AS: semakin besar surplusnya, semakin tinggi tarif yang dikenakan.

Namun, kebijakan itu sempat ditunda selama 90 hari guna memberi ruang negosiasi. Kini, tenggat waktu penundaan itu hampir habis, dan ketegangan kembali memuncak setelah Trump mengeluarkan pernyataan baru. Dalam unggahannya di media sosial, Trump mengancam akan menambah tarif 10% bagi negara-negara yang terafiliasi atau menunjukkan dukungan terhadap BRICS.

“Semua negara yang merapat dengan kebijakan BRICS yang anti-Amerika akan dikenakan TAMBAHAN tarif 10%. Tidak ada pengecualian atas kebijakan ini,” tulis Trump.

Pernyataan ini sontak memicu kekhawatiran pasar global. Menurut analis pasar, ketidakpastian tersebut membuat investor global mengambil langkah konservatif dengan menjauhi aset berisiko seperti mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Kehati-hatian melanda pasar menunggu perkembangan beberapa hari ke depan. Saya memperkirakan akan ada volatilitas,” ujar Nick Twidale, Kepala Analis di AT Global Markets, Sydney, seperti dikutip dari Bloomberg News.

Situasi ini menunjukkan bagaimana gejolak geopolitik dan kebijakan dagang negara besar seperti AS dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar di kawasan Asia. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar cenderung memilih dolar AS sebagai aset aman (safe haven), yang otomatis menekan nilai tukar mata uang lain.

Kondisi ini menjadi pengingat penting bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk terus memperkuat fundamental ekonomi domestik dan menjaga stabilitas pasar guna menghadapi tekanan eksternal yang sifatnya tak terduga.

Editor: Agusto Sulistio