Oleh: Prof. Dr. BES, Brother Eggi Sudjana.
🕌 Ketika Kebenaran Ditinggalkan
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الٓـمّٓرٰ ۗ تِلْكَ اٰيٰتُ الْكِتٰبِ ۗ وَالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُوْنَ
“Alif Lam Ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al-Qur’an). Dan (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu itu adalah benar; tetapi kebanyakan manusia tidak beriman kepadanya.”
QS. Ar-Ra’d: 1
🌹 Ada satu pesan besar dalam ayat ini: Al-Qur’an adalah al-haqq, kebenaran yang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Persoalannya bukan apakah Al-Qur’an benar atau tidak.
Persoalannya adalah mengapa “kebanyakan manusia tidak beriman” kepada kebenaran tersebut?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita melihat kehidupan manusia hari ini. Jumlah penduduk dunia telah mencapai lebih dari 8 miliar jiwa, sementara umat Islam sekitar seperempat dari jumlah tersebut. Artinya, masih sangat banyak manusia yang belum mengenal atau belum menerima Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.
Lalu, apa yang menjadi penyebab dasarnya?
🌿 Mengapa Kebenaran Sering Ditolak?
Para ulama tafsir menjelaskan berbagai sebab manusia berpaling dari kebenaran. Di antaranya adalah penyakit hati, mengikuti hawa nafsu, pengaruh lingkungan dan sistem kehidupan yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.
Pertama, penyakit takabur.
Allah berfirman:
سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.”
QS. Al-A’raf: 146
Kadang-kadang manusia merasa dirinya sudah sangat pintar, modern dan maju sehingga menganggap wahyu sebagai sesuatu yang tidak relevan.
Padahal kecerdasan manusia tidak pernah membuat manusia lebih tinggi daripada Penciptanya.
Kedua, mengikuti hawa nafsu dan kepentingan dunia.
Allah berfirman:
اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْاَنْفُسُ
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu.”
QS. An-Najm: 23
Kebenaran akan terasa berat apabila bertentangan dengan kepentingan pribadi.
Ketika Al-Qur’an melarang riba, korupsi, perjudian, kezaliman dan berbagai bentuk kemaksiatan, orang yang mendapatkan keuntungan dari praktik tersebut tentu akan merasa terganggu.
Ketiga, pengaruh propaganda dan pembelokan informasi.
Allah mengingatkan:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ
“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin.”
QS. Al-An’am: 112
Karena itu, umat perlu memiliki kemampuan membedakan antara informasi, opini, propaganda dan kebenaran.
Jangan sampai umat menilai Islam hanya berdasarkan pemberitaan atau framing yang belum tentu objektif.
Keempat, Al-Qur’an ditinggalkan dalam kehidupan.
Allah berfirman:
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا
“Dan Rasul (Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.'”
QS. Al-Furqan: 30
Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak membacanya.
Lebih jauh, seseorang dapat membaca Al-Qur’an tetapi tidak memahami pesannya, atau memahami tetapi tidak menjadikannya pedoman dalam kehidupan.
🌹 Maka penyakit umat bukan karena Al-Qur’an kehilangan kebenarannya.
Kebenaran tetap benar. Yang berubah adalah sikap manusia terhadap kebenaran.
🌿 Ketika Umat Tidak Peduli pada Urusan Publik
Di sinilah BES melihat persoalan lain yang perlu direnungkan: “ignore politik”, yaitu sikap tidak peduli terhadap urusan politik dan kebijakan publik.
Politik dalam pengertian luas bukan sekadar perebutan jabatan atau kekuasaan. Politik juga menyangkut bagaimana hukum dibuat, bagaimana ekonomi dikelola, bagaimana kekayaan negara didistribusikan dan bagaimana keadilan ditegakkan.
Jika umat sepenuhnya meninggalkan ruang tersebut, keputusan yang menyangkut kehidupan rakyat akan lebih banyak ditentukan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan politik dan ekonomi.
Akibatnya dapat muncul berbagai persoalan:
ketimpangan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, lemahnya perlindungan rakyat dan ketergantungan ekonomi.
Karena itu, peduli politik tidak berarti harus menjadi politisi.
Peduli politik berarti peduli terhadap keadilan, hukum, ekonomi, pendidikan, kesejahteraan rakyat dan amanah kekuasaan.
Inilah ruang perjuangan JUBEDIL: Jujur, Benar dan Adil.
🌿 Kemiskinan dan Ketakutan Rakyat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
QS. Al-A’raf: 96
Ayat ini mengajarkan bahwa iman dan takwa memiliki konsekuensi sosial. Kehidupan masyarakat tidak boleh dipisahkan dari nilai kejujuran, keadilan dan amanah.
Al-Qur’an juga memperingatkan tentang riba:
يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِي الصَّدَقٰتِ
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”
QS. Al-Baqarah: 276
Maka ketika masyarakat terjebak dalam utang berbunga, praktik pinjaman daring atau pinjol (pinjaman online), dan berbagai bentuk eksploitasi ekonomi, persoalannya tidak cukup diselesaikan hanya dengan menyuruh rakyat bersabar.
Kita harus melihat akar persoalannya: bagaimana sistem ekonomi bekerja, bagaimana akses pembiayaan rakyat dibangun, bagaimana koperasi diperkuat, bagaimana zakat dikelola produktif, dan bagaimana rakyat memperoleh sumber penghidupan yang adil.
Begitu pula dengan ketakutan.
Masyarakat yang miskin, tidak berdaya dan merasa tidak terlindungi secara hukum bisa kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Maka perjuangan JUBEDIL bukan sekadar slogan.
JUBEDIL harus hadir dalam kehidupan nyata: di rumah, di masjid, di sekolah, dalam ekonomi, dalam hukum, maupun dalam pemerintahan.
🌿 Solusi Sistemik: Tasfiyah, Tarbiyah dan Tasyri’
Kalau persoalannya sistemik, maka obatnya juga tidak cukup bersifat parsial.
BES menawarkan tiga tahapan:
1️⃣ TASFIYAH — Membersihkan Aqidah
Tasfiyah berarti membersihkan pemahaman umat dari kesyirikan, kekeliruan dan syubhat, lalu mengembalikannya kepada tauhid dan Al-Qur’an.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ
_”Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
QS. Muhammad: 19
Karena itu, umat harus kembali dekat dengan Al-Qur’an:
membaca, memahami, mengkaji dan mengamalkannya.
2️⃣ TARBIYAH — Membentuk Kader Umat
Setelah pemahaman dibangun, umat membutuhkan pembinaan.
Lahirkan kader CBM: Cerdas, Berani, Militan.
🧠 Cerdas, memahami agama sekaligus persoalan masyarakat.
❤️ Berani, menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang benar dan bijaksana.
🔥 Militan, istiqamah memperjuangkan kebaikan, bukan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
QS. Ali ‘Imran: 110
Pembinaan itu juga harus menyentuh kemandirian ekonomi umat: memperkuat koperasi, usaha produktif, zakat dan lembaga sosial agar rakyat tidak mudah terjebak dalam utang yang menjerat.
3️⃣ TASYRI’ — Mendorong Hukum yang Adil
Tahap berikutnya adalah memperjuangkan kebijakan dan hukum yang menghadirkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
Allah berfirman:
وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
“Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
QS. Al-Ma’idah: 45
Pesan utamanya adalah bahwa kekuasaan dan hukum harus dijalankan secara adil, amanah dan tidak boleh menjadi alat penindasan.
🌹 Tiga Pilar Perubahan
Dari tiga tahapan tersebut, kita dapat melihat tiga bidang yang perlu diperjuangkan:
- Ekonomi
Membangun ekonomi umat yang produktif dan berkeadilan; memperkuat koperasi, zakat produktif, pembiayaan yang sehat dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada utang yang menjerat. - Hukum
Mewujudkan hukum yang JUBEDIL: jujur, benar dan adil, serta berlaku tanpa pandang bulu. - Pendidikan
Melahirkan manusia yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beriman, berakhlak, berani dan bertanggung jawab.
Inilah yang dimaksud dengan solusi sistemik: bukan sekadar mengobati gejala, tetapi memperbaiki manusia sekaligus tata kehidupan yang memengaruhi kehidupan manusia.
🌿 Kunci Perubahan Ada pada Diri dan Masyarakat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
QS. Ar-Ra’d: 11
Maka jangan hanya menyalahkan rakyat.
Jangan pula hanya menyalahkan pemerintah.
Jangan hanya menyalahkan sistem.
Perubahan harus dimulai dari perubahan manusia, lalu dilanjutkan dengan perubahan sosial, ekonomi, hukum dan kebijakan melalui cara-cara yang konstitusional, damai dan bertanggung jawab.
🌹 Tasfiyah membenahi iman.
Tarbiyah membentuk manusia.
Tasyri’ mendorong tata hukum yang adil.
Ketiganya harus berjalan bersama.
🕌 Ajakan untuk Kader Umat CBM
Jangan menjadi bagian dari اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُوْنَ, yaitu orang-orang yang berpaling dari kebenaran.
Jadilah bagian dari orang-orang yang mendengar kebenaran, memahaminya, mengamalkannya dan memperjuangkannya dengan cara yang benar.
Allah mengingatkan:
قَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
QS. Saba’: 13
Maka tugas kader umat bukan sekadar pandai berbicara.
Tetapi menjadi manusia yang:
Cerdas dalam memahami kebenaran.
Berani menyampaikan kebenaran.
Militan dalam menjalankan kebenaran.
Dengan tetap menjunjung JUBEDIL: Jujur, Benar dan Adil.
🤲 Doa
اَللّٰهُمَّ اَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَاَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”
اَللّٰهُمَّ اَصْلِحْ وُلَاةَ اُمُوْرِنَا
“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin yang mengurus urusan kami.”
رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا مِنْ هٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ اَهْلُهَا
“Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang penduduknya berbuat zalim.”
QS. An-Nisa’: 75
🤲 Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
🌹 Kebenaran Al-Qur’an tidak pernah menjadi masalah.
Yang menjadi masalah adalah ketika manusia menjauhinya, hawa nafsu mengalahkan petunjuk, kepentingan mengalahkan keadilan, dan umat tidak lagi peduli terhadap urusan kehidupan bersama.
Karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri.
Kembali kepada Al-Qur’an.
Bangun umat yang beriman dan bertakwa.
Lahirkan kader yang Cerdas, Berani dan Militan.
Perjuangkan kejujuran, kebenaran dan keadilan.
Insya Allah, ikhtiar bersama ini dapat menjadi salah satu sebab hadirnya hidayah, keadilan dan keberkahan bagi negeri Indonesia yang kita cintai.
Salam Jihad, BES = Brother Eggi Sudjana