Oleh: Prof. Eggi Sudjana – Brother Eggi Sudjana (BES)
📖 Tiga Ayat dengan Konstruksi Logika yang Saling Berkaitan
Pikiranmerdeka.com | Dalam Mutiara Hikmah edisi Sabtu, 31 Oktober 2026, yang sekaligus menjadi penutup bulan Oktober dan rangkaian pembahasan selama sepekan, Prof. Eggi Sudjana atau Brother Eggi Sudjana (BES) mengangkat tiga ayat Al-Qur’an dari Surah At-Taubah ayat 38–40.
Ketiga ayat tersebut membahas seruan Infiru Fi Sabilillah atau berangkatlah di jalan Allah, teguran terhadap orang-orang beriman yang merasa berat memenuhi seruan perjuangan, ancaman penggantian kaum, serta jaminan pertolongan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Menurut BES, ketiga ayat tersebut membentuk satu konstruksi logika yang saling berhubungan. Terdapat tiga pesan utama, yakni teguran bagi mereka yang enggan berangkat, ancaman azab dan penggantian kaum bagi yang berpaling, serta kepastian pertolongan Allah kepada Rasul-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 38:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَـكُمْ اِذَا قِيْلَ لَـكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّا قَلْـتُمْ اِلَى الْاَرْضِ ۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kamu, ‘Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 38).
Selanjutnya, QS. At-Taubah ayat 39 menjelaskan:
اِلَّا تَـنْفِرُوْا يُعَذِّبْكُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا ۙ وَّيَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ وَلَا تَضُرُّوْهُ شَيْئًا ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 39).
Sementara itu, QS. At-Taubah ayat 40 memberikan penegasan mengenai pertolongan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW:
اِلَّا تَـنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَا حِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَـتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰى ۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, ‘Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 40).
🕌 Mengaitkan Enam Hari Mutiara Hikmah Selama Sepekan
Dalam pengantarnya, BES menjelaskan bahwa pembahasan Sabtu merupakan kelanjutan dari lima tema Mutiara Hikmah sebelumnya.
Rangkaian tersebut dimulai pada Senin dengan kisah Nabi Sulaiman AS yang tersenyum setelah mendengar perkataan semut, sebagaimana ungkapan Fatabassama Dhahikan. Pesannya berkaitan dengan kerendahan hati dan kesadaran terhadap kekuasaan Allah.
Pada Selasa, pembahasan diarahkan pada QS. Maryam mengenai tiga momentum kehidupan:
Wa Salamun Alaihi Yauma Wulida Wa Yauma Yamutu Wa Yauma Yub’atsu Hayya.
Yakni keselamatan pada hari kelahiran, hari kematian, dan hari kebangkitan.
Rabu membahas pentingnya memilih Qarin atau teman dekat yang baik melalui pembahasan Inni Kana Li Qarin. Sementara Kamis mengangkat tiga janji Allah, yakni Layastakhlifannahum, Walayumakkinanna, dan Walayubaddilannahum, yang dikaitkan dengan Istikhlaf dan semangat Sumpah Pemuda.
Adapun Jumat membahas tujuh prinsip kepemimpinan berdasarkan QS. Al-Hajj, khususnya ayat 41, yang memuat kewajiban mendirikan salat, menunaikan zakat, menyerukan kebaikan, dan mencegah kemungkaran.
Dalam pembahasan Jumat tersebut, BES juga mengangkat angka 75 persen tidak melaksanakan salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an yang disebut berasal dari data Monash University. Angka tersebut menjadi bahan refleksi mengenai kondisi keberagamaan masyarakat, dengan tetap memerlukan penelusuran sumber dan metodologi penelitian.
Kini, pada Sabtu 31 Oktober 2026, pembahasan ditutup dengan tiga ayat Infiru Fi Sabilillah dari QS. At-Taubah ayat 38–40.
BES mengajak pembaca membedahnya melalui tujuh lapisan pemahaman, yaitu Qur’an bil Qur’an, Asbabun Nuzul, riwayat hadis yang sahih, pendekatan filosofis, historis, sosiologis, serta keterkaitannya dengan lima tema sebelumnya.
📚 ASBABUN NUZUL: PERANG TABUK MENJADI LATAR PENTING
- Ayat 38–39 dan Mobilisasi Pasukan pada Tahun 9 Hijriah
Dalam penjelasan BES, konteks utama turunnya teguran pada ayat 38–39 berkaitan dengan Perang Tabuk pada tahun 9 Hijriah.
Peristiwa tersebut berlangsung ketika kaum Muslimin menghadapi situasi yang sulit. Rasulullah SAW menerima kabar mengenai konsolidasi kekuatan Romawi Bizantium di wilayah Syam yang berpotensi mengancam kaum Muslimin.
Konteks ini juga tidak dapat dipisahkan dari Perang Mu’tah tahun 8 Hijriah. Dalam pertempuran tersebut, sekitar 3.000 pasukan Muslim menghadapi kekuatan Romawi dan sekutunya yang dalam sejumlah riwayat disebut mencapai 200.000 orang.
Tiga panglima Muslim, yakni Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah, gugur sebagai syuhada. Setelah itu, Khalid bin Walid mengambil alih kepemimpinan dan berhasil menyelamatkan pasukan Muslim.
Menghadapi ancaman tersebut, Rasulullah SAW menyerukan mobilisasi besar atau Nafir Am. Seruan keberangkatan disampaikan secara terbuka karena perjalanan menuju Tabuk membutuhkan persiapan besar.
Perjalanan dari Madinah menuju Tabuk mencapai sekitar 700 kilometer. Kondisi cuaca juga sangat berat karena berlangsung pada musim panas.
Beberapa faktor yang memperberat keadaan antara lain:
- Har: Cuaca panas ekstrem.
- Jadh: Kondisi kekurangan pangan atau paceklik.
- Jidd: Musim panen kurma yang membuat sebagian masyarakat ingin tinggal menikmati hasil panen.
- Jarak perjalanan: Sekitar 700 kilometer dari Madinah menuju Tabuk.
- Ancaman militer: Menghadapi kekuatan Romawi Bizantium yang menjadi salah satu kekuatan besar dunia pada masa itu.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang merasa berat meninggalkan keluarga, pekerjaan, dan kenyamanan hidup.
BES menekankan bahwa keadaan tersebut menjadi konteks penting untuk memahami ungkapan Tsaqaltum Ilal Ardi, yakni sikap merasa berat untuk berangkat dan lebih memilih tinggal di tempat.
Surah At-Taubah juga dikenal sebagai Al-Fadhihah, yang bermakna pembongkar, karena sejumlah ayatnya mengungkap perilaku orang-orang munafik.
Dalam peristiwa Tabuk, terdapat orang-orang yang tidak berangkat dengan berbagai alasan. Namun, perlu dibedakan antara mereka yang sengaja mencari alasan dan tiga sahabat mukmin yang tidak berangkat tanpa alasan yang dibenarkan.
Ketiga sahabat tersebut adalah Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah.
Kisah mereka dijelaskan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim. Ketiganya menjalani pemboikotan sosial selama 50 hari sebelum Allah menerima tobat mereka, sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 118–119.
Melalui peristiwa ini, BES menghubungkan teguran ayat 38 dengan kecenderungan manusia yang terlalu mencintai dunia atau Hubbud Dunya.
Hal tersebut juga berkaitan dengan pembahasan Senin mengenai sifat Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub, yang perlu dikendalikan agar manusia mampu mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi bagian dari Ibadikas Shalihin.
- Ayat 39 dan Konsep Istibdal atau Penggantian Kaum
BES kemudian menggarisbawahi pesan ayat 39:
Illa Tanfiru Yu’adzibkum Adzaban Aliman Wa Yastabdil Qauman Ghairakum.
Ayat ini menjelaskan ancaman azab bagi mereka yang berpaling dari seruan perjuangan sekaligus menegaskan bahwa Allah Mahakuasa menggantikan suatu kaum dengan kaum lain.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, konsep tersebut berkaitan dengan kekuasaan Allah untuk menggantikan mereka yang berpaling dari perintah-Nya.
Pesan serupa terdapat dalam QS. Muhammad ayat 38:
Wa In Tatawallau Yastabdil Qauman Ghairakum Tsumma La Yakuunu Amtsalakum.
“Jika kamu berpaling, niscaya Dia akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu.”
Dalam pemikiran BES, Istibdal juga dikaitkan dengan perjalanan sejarah umat Islam setelah Rasulullah SAW wafat. Generasi Tabi’in melanjutkan perkembangan peradaban Islam, termasuk dalam perluasan pengaruh politik dan kekuatan Islam ke wilayah Romawi dan Persia.
Pembahasan ini juga dikaitkan dengan QS. An-Nur ayat 55 mengenai janji Istikhlaf, yaitu pemberian kedudukan dan kekuasaan kepada orang-orang beriman yang memenuhi syarat keimanan dan amal saleh.
BES menghubungkan pesan tersebut dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Menurutnya, persatuan pemuda yang melahirkan tekad Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa merupakan momentum penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Dalam konteks kepemimpinan, BES mengingatkan bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir. Kekuasaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, termasuk kewajiban mendirikan salat, menunaikan zakat, serta memperjuangkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Data Monash University yang disebut dalam pembahasan BES, yakni 75 persen tidak melaksanakan salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an, kembali diangkat sebagai bahan evaluasi. Validitas dan cakupan data tersebut tetap perlu diperiksa berdasarkan sumber penelitian aslinya.
- Ayat 40 dan Pertolongan Allah di Gua Tsur
Pembahasan berikutnya mengarah pada QS. At-Taubah ayat 40, yang mengingatkan peristiwa hijrah Rasulullah Muhammad SAW bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Ketika keduanya berada di Gua Tsur dan menghadapi ancaman pengejaran kaum Quraisy, Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan kalimat:
La Tahzan Innallaha Ma’ana.
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Kisah ini dijelaskan dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim.
Allah menurunkan Sakinah atau ketenangan serta memberikan pertolongan melalui bala tentara yang tidak terlihat.
Ungkapan Junudun Lam Tarauha menggambarkan bala tentara yang tidak dapat dilihat manusia. Dalam penafsiran ayat tersebut, pertolongan Allah dikaitkan dengan bantuan melalui kekuatan yang tidak terlihat, termasuk malaikat.
Sementara itu, kisah sarang laba-laba dan burung merpati dalam perjalanan hijrah dikenal dalam literatur sirah, tetapi tingkat kekuatan riwayatnya perlu dibedakan dari hadis sahih mengenai peristiwa Gua Tsur.
Ayat tersebut kemudian menegaskan:
Wa Ja’ala Kalimatalladzina Kafarus Sufla Wa Kalimatullahi Hiyal Ulya.
Allah menjadikan seruan orang-orang kafir rendah, sedangkan kalimat Allah tetap tinggi.
Menurut BES, pesan utamanya adalah bahwa pertolongan Allah tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya manusia yang mendukung perjuangan Rasulullah SAW.
Jika manusia tidak memberikan pertolongan, Allah tetap Mahakuasa menolong Rasul-Nya.
Karena itu, pihak yang berpaling dari kewajiban justru akan merugi, bukan Allah dan Rasul-Nya.
BES juga menghubungkan pesan tersebut dengan pembahasan Selasa mengenai salam kesejahteraan dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan, serta pembahasan Rabu mengenai pentingnya memilih Qarin yang baik.
🧠 ANALISIS FILOSOFIS: TSAQALTUM ILAL ARDI DAN KECENDERUNGAN MANUSIA MENCINTAI DUNIA
Dalam tinjauan filosofis, BES mengajak masyarakat memahami ungkapan Tsaqaltum Ilal Ardi melalui hubungan antara jasad dan ruh.
Manusia memiliki kebutuhan jasmani yang berkaitan dengan kehidupan dunia, seperti makanan, tempat tinggal, kenyamanan, dan keamanan.
Namun, persoalan muncul ketika kepentingan jasmani mendominasi seluruh orientasi hidup sehingga manusia melupakan tanggung jawab spiritual dan kehidupan akhirat.
BES menyebut kecenderungan tersebut sebagai Hubbud Dunya atau cinta dunia secara berlebihan.
Sebaliknya, unsur ruh mengingatkan manusia mengenai tanggung jawab moral, keimanan, pengabdian, serta kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Menurut BES, peristiwa Tabuk memberikan gambaran nyata mengenai pertarungan antara kenyamanan dunia dan tanggung jawab perjuangan.
Panas ekstrem, keterbatasan makanan, panen kurma, jarak perjalanan yang jauh, serta ancaman Romawi merupakan ujian yang dapat membuat seseorang memilih kenyamanan daripada kewajiban.
Karena itu, teguran Ma Lakum? atau mengapa kalian merasa berat, menjadi pertanyaan reflektif bagi manusia agar tidak menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
BES juga menyoroti kalimat La Tahzan Innallaha Ma’ana sebagai pesan filosofis mengenai keteguhan iman dan ketenangan jiwa.
Adapun Kalimatullah Hiyal Ulya menggambarkan kedudukan firman Allah yang tinggi, sedangkan Kalimatalladzina Kafaru Sufla menggambarkan rendahnya seruan yang bertentangan dengan kebenaran.
Dalam analogi BES, persatuan Sumpah Pemuda menjadi contoh bagaimana kepentingan yang lebih besar harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok dan kedaerahan.
🏛️ TINJAUAN HISTORIS: PERANG TABUK DAN SEMANGAT JAIYSYUL USRAH
Perang Tabuk dikenal sebagai salah satu ekspedisi paling berat dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
Pasukan Muslim disebut sebagai Jaisyul Usrah, yaitu pasukan yang menghadapi berbagai kesulitan.
Dalam catatan sejarah, jumlah pasukan Muslim diperkirakan mencapai 30.000 orang. Mereka harus menempuh perjalanan sekitar 700 kilometer dalam kondisi panas ekstrem, keterbatasan air, dan persediaan makanan yang minim.
Dalam sejumlah riwayat sejarah disebutkan bahwa satu unta digunakan secara bergantian oleh beberapa orang. Bahkan, terdapat kisah para sahabat yang menghadapi kesulitan mendapatkan air dan makanan hingga harus melakukan berbagai upaya untuk bertahan dalam perjalanan.
Namun, Rasulullah SAW tetap memimpin keberangkatan pasukan.
Hasil ekspedisi tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi pertempuran terbuka antara pasukan Muslim dan Romawi di Tabuk.
Kehadiran pasukan Muslim memberikan dampak strategis terhadap posisi politik dan keamanan di kawasan perbatasan Syam. Sejumlah kelompok Arab di wilayah tersebut kemudian menjalin hubungan dengan pemerintahan Islam.
Bagi BES, peristiwa Tabuk memperlihatkan bahwa keberanian, persatuan, kesiapan, dan keyakinan kepada pertolongan Allah merupakan kekuatan penting dalam menghadapi tantangan besar.
🇮🇩 Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Perjuangan Kemerdekaan
BES juga menghubungkan semangat Perang Tabuk dengan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Momentum tersebut menjadi tonggak persatuan pemuda Indonesia yang melampaui perbedaan suku, daerah, dan latar belakang.
Ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa menjadi dasar penting dalam membangun identitas nasional.
Pada masa itu, Belanda merupakan kekuatan kolonial yang memiliki kekuasaan dan persenjataan jauh lebih kuat dibandingkan kelompok-kelompok perjuangan Indonesia.
Namun, persatuan dan perjuangan panjang rakyat Indonesia akhirnya mengantarkan bangsa ini menuju Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Dalam analogi BES, semangat pemuda tahun 1928 merupakan bentuk Infiru, yaitu keberanian untuk bergerak meninggalkan kepentingan sempit demi cita-cita yang lebih besar.
Seandainya para pemuda tetap terpecah dalam kepentingan kedaerahan, perjalanan menuju kemerdekaan tentu akan jauh lebih sulit.
👥 TINJAUAN SOSIOLOGIS: TIGA FAKTOR YANG MEMBUAT MANUSIA BERAT BERJUANG
BES memandang sikap Tsaqaltum Ilal Ardi sebagai fenomena sosial yang dapat terjadi dalam setiap zaman.
Pada masa Tabuk, terdapat orang-orang yang enggan berangkat dan mencari berbagai alasan. Sementara itu, tiga sahabat mukmin, yakni Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah, menunjukkan penyesalan atas ketidakhadiran mereka dan akhirnya memperoleh pengampunan Allah.
Dalam konteks kehidupan masyarakat sekarang, BES mengidentifikasi tiga faktor yang dapat melemahkan semangat perjuangan.
- Hubbud Dunya – Cinta Dunia
Faktor pertama adalah kecintaan berlebihan terhadap kehidupan dunia.
Manusia dapat lebih mengutamakan kekayaan, jabatan, proyek, kenyamanan, dan kepentingan pribadi dibandingkan tanggung jawab agama maupun sosial.
Dalam kritik sosialnya, BES juga mengaitkan fenomena tersebut dengan perilaku buzzer bayaran dan kelompok berkepentingan yang dinilai lebih mengutamakan keuntungan materi.
Hal ini dihubungkan dengan QS. Ar-Rum ayat 7:
Ya’lamuna Zhahiran Minal Hayatid Dunya Wa Hum Anil Akhirati Hum Ghafilun.
Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.
Pesannya, manusia tidak boleh membiarkan kepentingan dunia membuatnya melupakan tanggung jawab kepada Allah.
- Khauf – Ketakutan
Faktor kedua adalah ketakutan yang berlebihan.
Pada masa Tabuk, kaum Muslimin menghadapi ancaman Romawi, perjalanan jauh, cuaca panas, keterbatasan makanan, dan risiko kehilangan nyawa.
Ketakutan yang tidak dikelola dapat membuat manusia kehilangan keberanian untuk menjalankan tanggung jawab.
BES menghubungkan hal tersebut dengan pembahasan Kamis mengenai janji Allah:
Walayubaddilannahum Min Ba’di Khaufihim Amna.
Allah akan menggantikan keadaan takut mereka dengan keamanan.
Semangat Sumpah Pemuda juga menjadi contoh bahwa keberanian membangun persatuan dapat mengubah ketakutan menjadi kekuatan bersama.
- Qarin Buruk – Pengaruh Lingkungan yang Tidak Baik
Faktor ketiga adalah pengaruh teman atau lingkungan yang menjauhkan manusia dari kebaikan.
BES menghubungkannya dengan pembahasan Rabu mengenai Inni Kana Li Qarin, yakni kisah tentang teman dekat yang dapat memengaruhi keyakinan seseorang.
Dalam QS. Ash-Shaffat, terdapat dialog mengenai seseorang yang dahulu memiliki teman yang meragukan kehidupan akhirat dan mempertanyakan kebangkitan setelah kematian.
BES mengingatkan bahwa lingkungan yang buruk dapat membisikkan berbagai alasan agar manusia tidak beribadah, tidak berbuat baik, dan tidak memperjuangkan kebenaran.
Dalam kritik sosialnya, BES juga menyinggung pengaruh buzzer bayaran dan kelompok berkepentingan yang dinilai dapat mengarahkan masyarakat menjauh dari nilai-nilai agama.
Angka 75 persen tidak melaksanakan salat dan 73 persen tidak bisa membaca Al-Qur’an yang disebut dalam pembahasan BES kembali menjadi bahan refleksi mengenai pentingnya pendidikan agama dan pembinaan masyarakat.
🔎 TIGA KESIMPULAN UTAMA: TEGURAN, ISTIBDAL, DAN PERTOLONGAN ALLAH
Menutup pembahasan Mutiara Hikmah Oktober, BES kembali menegaskan tiga konstruksi logika utama dari QS. At-Taubah ayat 38–40.
Pertama, teguran kepada orang beriman yang enggan berangkat.
Tsaqaltum Ilal Ardi menggambarkan kecenderungan manusia yang lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat.
Pesan ini berkaitan dengan pembahasan Senin tentang Ridho, Jahl, Hubbud Dunya, Bakhil, Riya, dan Ujub.
Manusia perlu mengendalikan sifat-sifat tersebut agar tidak kehilangan semangat dalam menjalankan kewajiban dan pengabdian kepada Allah.
Kedua, ancaman penggantian kaum bagi mereka yang berpaling.
Illa Tanfiru Yu’adzibkum Adzaban Aliman Wa Yastabdil Qauman Ghairakum.
Allah Mahakuasa memberikan azab dan menggantikan suatu kaum dengan kaum lain apabila mereka berpaling dari perintah-Nya.
Pesan ini berkaitan dengan QS. Muhammad ayat 38, QS. An-Nur ayat 55, serta pembahasan Kamis tentang Istikhlaf.
Dalam konteks kehidupan berbangsa, semangat Sumpah Pemuda 1928 menjadi contoh pentingnya keberanian meninggalkan kepentingan sempit demi persatuan.
Dalam konteks kepemimpinan, jabatan harus dijalankan sebagai amanah, bukan semata-mata sarana memperoleh kekuasaan dan keuntungan pribadi.
Ketiga, jaminan pertolongan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Illa Tansuruhu Faqad Nasharahullah.
Allah telah menolong Rasulullah SAW ketika berada di Gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq.
Melalui kalimat La Tahzan Innallaha Ma’ana, Rasulullah SAW memberikan ketenangan kepada sahabatnya. Allah kemudian menurunkan Sakinah dan memberikan pertolongan melalui bala tentara yang tidak terlihat.
Pesan tersebut ditegaskan melalui:
Kalimatullah Hiyal Ulya Wa Kalimatalladzina Kafaru Sufla.
Kalimat Allah tetap tinggi, sedangkan seruan orang-orang kafir direndahkan.
BES menghubungkan pesan tersebut dengan Perang Tabuk, Sumpah Pemuda 1928, dan perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan 1945.
🌺 PENUTUP: JANGAN BERAT KE BUMI, TETAPI BERANGKATLAH DI JALAN ALLAH
Melalui rangkaian Mutiara Hikmah selama enam hari, Prof. Eggi Sudjana mengajak masyarakat memahami bahwa kehidupan manusia tidak boleh hanya berorientasi pada kepentingan dunia.
Secara filosofis, manusia harus mampu mengendalikan kecenderungan jasmani agar tidak melupakan tanggung jawab spiritual.
Secara historis, Perang Tabuk memperlihatkan keteguhan Rasulullah SAW dan para sahabat dalam menghadapi kesulitan yang luar biasa.
Secara sosiologis, Hubbud Dunya, Khauf, dan pengaruh Qarin yang buruk merupakan faktor yang dapat melemahkan semangat pengabdian manusia.
Karena itu, BES mengajak umat Islam memperkuat keimanan, menjaga persatuan, memilih lingkungan yang baik, menegakkan salat, menjalankan amanah kepemimpinan, serta tidak menjadikan kenyamanan dunia sebagai alasan meninggalkan kewajiban.
Pesan terakhir yang menjadi inti Mutiara Hikmah Sabtu, 31 Oktober 2026, adalah:
INFIRU FI SABILILLAH!
Berangkatlah di jalan Allah, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dengan tetap berpegang pada keimanan, kebenaran, keadilan, dan tanggung jawab.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 41:
اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا
“Berangkatlah kamu, baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat.”
Jangan sampai kecintaan berlebihan terhadap dunia membuat manusia kehilangan keberanian untuk berbuat baik dan menjalankan tanggung jawabnya.
Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. Pertolongan-Nya tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya manusia yang mendukung kebenaran.
Wallahu A’lam Bishawab.
🤲 Salam Jihad dan Sabar.
BES – Brother Eggi Sudjana