Pikiran merdeka.com TANGERANG 4 November 2026 – Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), drh. Asrokh Nawawi, menegaskan bahwa perkembangan teknologi dan digitalisasi menjadi faktor penting dalam mendorong efisiensi, produktivitas, serta peningkatan kualitas industri peternakan ayam nasional.
Hal tersebut disampaikannya kepada awak media dalam kegiatan INDOGRITECH Expo dan Nusantara Livestock & Poultry Expo 2026, yang digelar pada 4 November 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang.
Menurut Asrokh Nawawi, pameran nasional yang menghadirkan berbagai inovasi di bidang pertanian, peternakan, dan perunggasan tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperkenalkan industri perunggasan Indonesia kepada masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui bahwa sektor peternakan ayam saat ini telah berkembang pesat dengan memanfaatkan teknologi modern.
Ia menjelaskan, industri perunggasan nasional sudah mengalami banyak perubahan, terutama dalam penerapan sistem peternakan modern. Salah satu perkembangan yang cukup menonjol adalah penggunaan kandang tertutup atau closed house yang kini telah diterapkan sekitar 80 persen pada peternakan yang menggunakan sistem tersebut.
Dengan perkembangan teknologi sekarang, peternakan ayam sudah semakin modern. Kita bisa memonitor jumlah ayam, mengetahui kondisi ayam yang sakit, serta memantau seluruh populasi melalui CCTV. Bahkan, kelembapan udara, pola pemberian pakan, hingga suhu di dalam kandang bisa kita atur dengan teknologi,” jelas Asrokh Nawawi.
Menurutnya, penerapan teknologi digital tersebut memberikan banyak keuntungan bagi pelaku usaha peternakan, khususnya dalam meningkatkan efisiensi operasional dan pengelolaan populasi ayam.
Ia mencontohkan, dalam satu kandang peternakan komersial modern dapat menampung sekitar 40 ribu ekor ayam dengan kebutuhan tenaga kerja hanya tiga sampai empat orang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penggunaan teknologi mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan kebutuhan tenaga kerja secara signifikan.
Efisiensinya jauh lebih baik. Dalam satu kandang komersial, jumlah ayam bisa mencapai 40 ribu ekor, tetapi tenaga kerjanya hanya sekitar tiga sampai empat orang. Ini merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi di sektor perunggasan,” ungkapnya.
Selain meningkatkan efisiensi, penggunaan teknologi modern juga dapat mengurangi kontak langsung antara manusia dan hewan. Dengan semakin terkendalinya aktivitas di dalam kandang, kesehatan dan kondisi ayam dapat lebih terjaga.
Asrokh menilai, pengurangan kontak langsung tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kesehatan ternak, meningkatkan kualitas pemeliharaan, serta mendukung penerapan standar peternakan yang lebih baik.
Tidak hanya pada sektor budidaya, perkembangan teknologi juga telah diterapkan di rumah potong hewan unggas atau rumah potong ayam modern. Proses pemotongan ayam kini dapat dilakukan menggunakan sistem dan peralatan berteknologi tinggi sehingga kapasitas produksi menjadi jauh lebih besar.
Ia menjelaskan, kapasitas pemotongan di fasilitas modern dapat mencapai sekitar 2.000 hingga 4.000 ekor ayam per jam, bahkan pada fasilitas dengan kapasitas lebih besar dapat mencapai 12.000 ekor per jam.
Rumah potong ayam sekarang juga sudah lebih modern. Kapasitas pemotongannya bisa mencapai 2.000 sampai 4.000 ekor per jam, bahkan ada yang mampu mencapai 12.000 ekor per jam. Dengan teknologi tersebut, proses produksi menjadi lebih efisien dan terukur,” paparnya.
Asrokh menambahkan, modernisasi rumah potong ayam tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga harus memperhatikan standar kesehatan, kebersihan, higienitas, serta ketentuan kehalalan produk yang dihasilkan.
Menurutnya, ayam yang diproduksi dan diproses melalui fasilitas modern harus tetap memenuhi standar kesehatan dan higienitas sehingga produk yang sampai kepada masyarakat aman dan berkualitas.
Lebih lanjut, Ketua Umum GPPU tersebut berharap melalui INDOGRITECH Expo dan Nusantara Livestock & Poultry Expo 2026, masyarakat semakin memahami bahwa industri perunggasan merupakan sektor strategis yang telah didukung perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan sistem produksi modern.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) dan Kementerian Pertanian dalam memperkuat industri perunggasan nasional.
Sinergi tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas harga, kelancaran proses produksi, serta memastikan ketersediaan dan kelancaran pasokan ayam nasional agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
Menurut Asrokh, keberlanjutan industri perunggasan membutuhkan kerja sama seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan pembibitan unggas, peternak, pelaku usaha pengolahan, pemerintah, hingga pihak-pihak yang terlibat dalam rantai distribusi.
Dengan dukungan teknologi, penguatan produksi, dan koordinasi antara pemerintah serta pelaku usaha, industri perunggasan Indonesia diharapkan semakin efisien, kompetitif, dan mampu memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.
Pameran INDOGRITECH Expo dan Nusantara Livestock & Poultry Expo 2026 pun menjadi salah satu sarana untuk memperlihatkan perkembangan inovasi dan teknologi peternakan sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya sektor perunggasan bagi ketahanan pangan nasional.