Ket Gambar: Pakar Energi, Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar. Foto/CNN
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Setelah Amerika Serikat menggempur tiga fasilitas nuklir utama Iran, Fordow, Natanz, dan Isfahan. Teheran mengancam akan menutup Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi nadi utama distribusi energi global.
Sekitar 20% ekspor minyak dunia dan 20% ekspor gas alam cair (LNG) melewati jalur tersebut setiap harinya. Jika ditutup, dampaknya akan angsung terasa pada harga energi di seluruh dunia.
Harga minyak mentah Brent sudah naik dari USD65 di awal Juni menjadi USD73 setelah Israel menyerang Iran pada 13 Juni 2025. Mantan Menteri ESDM Arcandra Tahar memperkirakan jika fasilitas energi Iran menjadi target, maka 3,3 juta barel per hari (bopd) produksi minyak dan 2 juta bopd ekspor bisa terhenti, sekitar 3% dari suplai global.
Pangkalan AS di Qatar Miliki Alutsista Supercanggih Jadi Sasaran Iran
DPR Tak Bacakan Surat Pemakzulan Gibran, Ini Alasannya
Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?
“Jika Selat Hormuz ditutup, spekulasi harga minyak bisa menembus USD90 per barel,” kata pakar energi Arcandra.
Namun analis lainnya memperingatkan bahwa skenario buruk bisa lebih parah. Joe Brusuelas dari RSM US menulis, “Gangguan total bisa mendorong harga ke USD100 atau lebih.”
JP Morgan bahkan menyebut skenario ekstrem dapat memicu lonjakan harga hingga USD120–130 per barel jika konflik meluas. Sementara Goldman Sachs menilai risiko geopolitik saat ini sudah menambah premi harga sekitar USD10 per barel.
Tanker Minyak Putar Balik di Selat Hormuz, Lonjakan Harga dan Kelangkaan Minyak Depan Mata
Ketegangan Global Mengancam APBN, DPR Desak Pemerintah Bertindak Cepat
Phil Flynn dari Price Futures Group menambahkan, meskipun ketegangan mungkin mereda, harga minyak tak akan kembali ke level USD60-an seperti bulan lalu.
Yang paling mencengangkan, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menyebut harga bisa melonjak hingga USD200–300 per barel jika konflik memburuk. Ia mengingatkan bahwa operasi militer di kawasan bisa memicu inflasi tinggi di Eropa dan mengganggu ekspor minyak dari Irak dan negara Teluk lainnya.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, dunia berpotensi kehilangan hingga lima juta barel minyak per hari dari kawasan Teluk. Krisis energi global bisa kembali menghantui, dan harga energi yang tinggi akan menyentuh seluruh sendi kehidupan ekonomi dunia.
(Agt/PM)