Krisis Politik Thailand Ancam Resesi Ekonomi, Dampak Bagi Indonesia?

Jun 30, 2025

Thailand menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi. Di tengah gejolak politik dalam negeri akibat demonstrasi yang menuntut Perdana Menteri Paetongtarn mundur karena sengketa perbatasan dengan Kamboja, kondisi ekonomi negara ini pun tak kalah mengkhawatirkan.

Pertumbuhan ekonomi Thailand hanya mencapai 3,1% (yoy) pada kuartal I-2025, melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat deflasi dua bulan berturut-turut, terakhir sebesar -0,57% pada Mei 2025. Ini menunjukkan lemahnya daya beli masyarakat dan tekanan jangka panjang terhadap inflasi yang tak kunjung pulih.

Mamdani, Ibrahim Traore dan Prabowo Subianto: Tantangan Melawan Oligarki

Israel Rugi 324 Triliun dalam 12 Hari Perang Lawan Iran, Beban Ekonomi Membengkak

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?

Menurut Pipat Leungnaruemitchai dari Kiatnakin Phatra Financial Group, lemahnya inflasi bukan hanya karena penurunan harga, melainkan karena permintaan domestik yang lemah. Dunia usaha enggan menaikkan harga karena masyarakat tidak sanggup menanggung beban tambahan.

Meski tingkat pengangguran resmi masih rendah di angka 0,89%, tren pelemahan konsumsi dan turunnya investasi swasta menunjukkan adanya tekanan struktural yang lebih luas. Rasio utang pemerintah terhadap PDB mencapai 63,70%, sementara PDB per kapita Thailand tahun 2023 hanya sebesar US\$6.393 jauh dari kategori negara berpendapatan tinggi.

Burin Adulwattana dari Kasikorn Research Center memperkirakan Thailand bisa masuk ke dalam resesi teknikal pada paruh kedua 2025. Penyebabnya adalah anjloknya ekspor, pariwisata yang tidak optimal, serta pemangkasan besar-besaran anggaran stimulus ekonomi dari 140 miliar baht tahun lalu menjadi hanya 25 miliar baht.

Pusat Intelijen Ekonomi Siam Commercial Bank (SCB EIC) bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand 2025 menjadi hanya 1,5%. Mereka memperingatkan risiko tinggi resesi akibat tekanan global, ketidakpastian kebijakan, serta terbatasnya ruang fiskal domestik.

Sektor-sektor utama yang sebelumnya jadi tumpuan pertumbuhan, seperti pariwisata dan ekspor, kini kehilangan tenaga. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga juga melemah tajam seiring dengan terbatasnya pendapatan, ketatnya akses kredit, serta kekhawatiran atas kualitas utang rumah tangga.

Kenaikan Anggaran NATO Bongkar Jaringan Kartel Raksasa Industri Senjata Eropa

Tawaran Kapal Selam S26 China, Risiko Geopolitik, Tantangan Teknologi, dan Kebutuhan Strategis Indonesia

Dengan tekanan struktural yang tak kunjung reda dan instabilitas politik yang memburuk, ekonomi Thailand kini berada di ambang resesi, dengan tantangan besar yang harus segera direspons baik oleh otoritas fiskal maupun moneter.

Krisis ekonomi dan politik Thailand berpotensi memberi efek terbatas dan tidak sistemik terhadap ekonomi Indonesia.
Sebagian besar dampaknya bersifat tidak langsung, melalui saluran perdagangan, sentimen investor, dan pariwisata.

Namun jika gejolak di Thailand meluas atau menjalar ke negara ASEAN lainnya, maka risiko kawasan bisa meningkat. Dalam situasi seperti ini, Indonesia harus tetap menjaga stabilitas makro, fiskal, dan kepercayaan investor domestik maupun asing.

Peluang justru terbuka bagi Indonesia untuk menarik investasi, wisatawan, dan peran geopolitik lebih besar di ASEAN, jika mampu menjaga stabilitas dan reformasi struktural tetap berjalan.

(Agt/PM – Sumber: Reuters)