Foto: Alm Sena A Utoyo melalui Tekhnologi AI. Foto/Ist.
Para seniman alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar serangkaian kegiatan seni bertajuk “Merindu Sena A. Utoyo” sebagai bentuk penghormatan terhadap maestro teater pantomim Indonesia, mendiang Sena A. Utoyo. Acara yang berlangsung selama tiga hari ini tak hanya menjadi ajang nostalgia, tetapi juga langkah awal untuk mewujudkan cita-cita besar almarhum, mendirikan sekolah pantomim di tanah air.
Kegiatan ini dimulai pada Senin, 7 Juli 2025, dengan ziarah dan tabur bunga di makam Sena A. Utoyo di TPU Jeruk Purut. Suasana penuh haru mewarnai prosesi yang kemudian dilanjutkan dengan pameran foto dokumentasi, mural, doa bersama anak yatim, dan malam puncak apresiasi terhadap dedikasi almarhum dalam dunia seni peran dan teater tanpa kata.

Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?
Pertemuan Prabowo Putin: Berikut Kerjasama yang Akan Dilakukan Indonesia Rusia
Waspada! Harga Pangan Naik-Turun, Berapa Harga Beras, Gula, dan Minyak Saat Ini?
Rangkaian acara berlanjut pada Selasa dan Rabu, 8–9 Juli 2025, di Jatha Coffee & Roastery, Bintaro, Tangerang Selatan. Kegiatan diisi dengan berbagai bentuk aktivitas kreatif seperti belajar melukis di atas kertas dan tas, workshop pantomim, serta pementasan hasil workshop tersebut. Semuanya dilakukan sebagai medium ekspresi sekaligus edukasi untuk mengenalkan kembali seni pantomim kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
Ketua panitia, Isdaryanto, menyampaikan bahwa inisiatif ini lahir dari kerinduan mendalam terhadap sosok Sena A. Utoyo. Gagasan awal datang dari Ayu B.N., S.Sn., S.H., M.H., M.Kn, Pembina Yayasan Citra Samara Mulia, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk acara kolaboratif para alumni IKJ dan komunitas seni.
Ayatollah Ali Khamenei Siapkan Penggantinya, Rusia Ancam AS
Lima Strategi Kementrian PU Wujudkan Swasembada Pangan Prabowo
Kenaikan Anggaran NATO Bongkar Jaringan Kartel Raksasa Industri Senjata Eropa
“Ini bukan sekadar mengenang, tetapi langkah awal menuju impian besar, membangun Rumah Pantomim Indonesia. Kami ingin mewujudkan harapan almarhum untuk mendirikan sekolah pantomim yang dapat melahirkan generasi baru seniman pantomim tanah air,” ujar Isdaryanto.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya dukungan dari pemerintah dan institusi budaya agar seni pantomim, sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia, tidak terlupakan. Menurutnya, pantomim bukan hanya seni pertunjukan, tetapi juga sarana pendidikan karakter dan ekspresi emosional yang jujur dan mendalam.
Sementara itu, Mba Ayu panggilan akrab Pembina Yayasan Citra Samara Mulia, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dilandasi rasa cinta, ketulusan, dan penghargaan atas warisan seni yang ditinggalkan Sena A. Utoyo. Ia menyatakan bahwa yayasan berkomitmen untuk segera membuka sekolah pantomim di gedung milik yayasan.
“Ini bukan hanya tentang seni, tetapi juga tentang kejujuran, cinta kasih, dan kesederhanaan yang tercermin dalam karya-karya Sena. Kami ingin semangat itu terus hidup, menjadi sumber inspirasi, dan menjadi amal jariyah dari seorang seniman besar untuk bangsanya,” tutur Ayu.
Dengan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap seni, acara “Merindu Sena A. Utoyo” menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga dilanjutkan dan diberdayakan. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa seni, dalam diamnya pantomim, mampu bersuara lantang tentang cinta, perjuangan, dan harapan yang tak lekang oleh waktu.
(Agt/PM)