Meski Iran Tak Akan Gunakan Nuklir, Perang Bisa Meluas, Berikut Negara-negara yang Akan Terlibat

Jun 15, 2025

Konflik antara Iran dan Israel kembali mencapai titik didih. Serangan balasan Iran berupa ratusan rudal dan drone yang menghantam wilayah Israel, termasuk kota Tel Aviv, merupakan salah satu eskalasi militer terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Namun di tengah situasi yang nyaris menuju perang terbuka, pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjadi sorotan global.

Dalam percakapan via telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Jumat malam (13/6/2025), Pezeshkian dengan tegas menyatakan bahwa Iran tidak akan menggunakan senjata nuklir, termasuk terhadap Israel. Ia menegaskan, seluruh aksi militer Iran bersifat defensif sebagai balasan atas serangan Israel terhadap infrastruktur utama milik Iran.

Pernyataan ini bukan sekadar diplomasi lisan. Ini adalah sinyal penting bahwa meskipun konflik memanas, Iran berusaha menunjukkan sikap rasional di tengah tekanan geopolitik yang kompleks. Dalam dinamika kawasan Timur Tengah, sinyal semacam ini menjadi penyeimbang agar konflik tidak berkembang ke arah yang lebih destruktif.

Serangan Iran menyebabkan kerusakan serius di Israel. Meski sistem pertahanan udara Iron Dome berhasil mencegat sebagian rudal, sejumlah lainnya menghantam kawasan padat penduduk seperti Ramat Gan, Tel Aviv. Sembilan bangunan runtuh, puluhan apartemen hancur, dan kendaraan warga rusak parah. Setidaknya sembilan orang terluka, satu di antaranya dalam kondisi kritis.

Sirene peringatan berbunyi di berbagai kota. Warga Israel dilaporkan panik dan berlarian menuju tempat perlindungan bawah tanah. Video-video amatir yang tersebar di media sosial memperlihatkan langit malam yang penuh ledakan, menunjukkan intensitas serangan yang mengejutkan.

Israel kini berada dalam status siaga penuh, dengan kemungkinan terjadinya serangan lanjutan. Namun pertanyaan besar yang mengemuka adalah: apakah ini awal dari perang terbuka yang lebih luas?

Konflik Iran–Israel tidak bisa dilihat sebagai pertikaian dua negara semata. Keduanya adalah aktor utama dalam konstelasi geopolitik Timur Tengah, yang membawa pengaruh luas terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan tersebut.

Israel, sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah, memiliki kekuatan militer canggih dan hubungan erat dengan NATO. Di sisi lain, Iran merupakan kekuatan regional dengan jaringan aliansi non-negara yang luas, seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, serta kelompok-kelompok bersenjata di Irak dan Suriah.

Setiap eskalasi antara dua negara ini berpotensi menyeret aktor-aktor lain di kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, hingga Turki. Bahkan Rusia dan China pun turut memantau situasi ini secara ketat, mengingat posisi strategis Iran dalam poros Timur yang anti-hegemoni Barat.

Di tengah situasi ini, pernyataan Pezeshkian untuk tidak menggunakan nuklir juga merupakan pesan kepada komunitas internasional, bahwa Iran berupaya menjaga proporsionalitas dalam konflik meskipun tekanan militer sangat besar.

Bayang-Bayang Perang Proksi dan Ketidakstabilan Regional

Wilayah Timur Tengah sudah lama menjadi medan perang proksi antara kekuatan global. Amerika Serikat dan sekutunya mendukung Israel dan pemerintahan konservatif Arab, sementara Rusia dan China kerap mendukung poros perlawanan yang diwakili Iran dan sekutunya.

Konflik Iran–Israel yang memburuk bisa menjadi pemantik konflik yang lebih luas. Jika Israel memutuskan untuk menyerang balik secara besar-besaran, bukan tidak mungkin perang meluas ke Lebanon Selatan (markas Hizbullah), Suriah, bahkan Yaman.

Dalam skenario terburuk, jalur pelayaran penting seperti Selat Hormuz jalur ekspor utama minyak dunia bisa terganggu, yang akan memicu krisis energi global.

Pernyataan Presiden Pezeshkian yang menolak opsi nuklir seharusnya membuka ruang diplomasi. Namun, peluang ini sangat tipis tanpa keterlibatan aktif kekuatan global seperti Rusia, China, dan negara-negara Eropa.

Amerika Serikat, sejauh ini, belum menunjukkan tanda-tanda mendorong gencatan senjata. Fokus politik domestik dan pertimbangan elektoral sering membuat respons Washington terhadap konflik Timur Tengah bersifat reaktif, bukan proaktif.

Di sinilah peran negara-negara non-blok atau kekuatan regional yang moderat sangat dipeelukan, seperti Qatar, Turki, atau bahkan Indonesia. Pendekatan diplomatik dan seruan kepada Dewan Keamanan PBB perlu segera diintensifkan untuk mencegah potensi perang skala penuh.

Penutup

Situasi saat ini menempatkan kawasan Timur Tengah berada diposisi perang yang paling rawan meluas. Meski komitmen Iran untuk tidak menggunakan senjata nuklir layak diapresiasi, tensi militer yang terus meningkat tetap membawa resiko besar bagi stabilitas kawasan dan dunia.

Diplomasi harus berpacu dengan waktu. Karena jika tidak, dunia bisa saja menyaksikan babak baru dalam sejarah panjang konflik Timur Tengah, babak yang mungkin jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

Jakarta, Minggu 15 Juni 2025, 09:09 Wib.
Oleh: Tim Redaksi Pikiranmerdeka.com