Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui bahwa Indonesia tengah mengalami krisis tenaga dokter. Ia menyoroti minimnya rasio dokter di Indonesia, yang hanya 0,47 per 1.000 penduduk jauh di bawah standar ideal WHO sebesar 1 dokter per 1.000 penduduk.
Untuk mengatasi masalah ini, Prabowo meminta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto untuk segera memperbanyak fasilitas pendidikan kedokteran dan keperawatan.
Ayatollah Ali Khamenei Siapkan Penggantinya, Rusia Ancam AS
Pakistan Usulkan Donald Trump Penerima Nobel Perdamaian, Manuver Politik atau Pengakuan Diplomasi?
Prabowo Bubarkan Satgas Saber Pungli Bentukan Jokowi
“Kita harus segera tambah fakultas kedokteran, akademi perawat, dan pendidikan spesialis,” ujar Prabowo saat meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dan Bali International Hospital di Denpasar, Rabu (25/6/2025).
Kekurangan dokter ini berdampak langsung pada layanan kesehatan masyarakat. Banyak warga Indonesia memilih berobat ke luar negeri karena keterbatasan akses serta kualitas layanan di dalam negeri.
Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?
DPR Tak Bacakan Surat Pemakzulan Gibran, Ini Alasannya
Wilayah Ini Waspada! Gempa Megathrust Hitungan Menit Picu Tsunami 20 Meter
Meski begitu, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki rumah sakit dengan peralatan medis berteknologi tinggi. Tantangannya kini adalah menyiapkan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan peralatan tersebut.
“Tenaga-tenaga ahli terus kita didik agar rakyat bisa mendapat layanan kesehatan terbaik,” tambahnya.
KEK Sanur dirancang sebagai kawasan pariwisata medis terintegrasi pertama di Indonesia, yang mencakup rumah sakit, klinik spesialis, pusat riset, hotel, dan fasilitas konvensi. Diharapkan kehadiran KEK ini tak hanya menekan angka warga yang berobat ke luar negeri, tapi juga menarik wisatawan medis mancanegara dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
(Hen/PM)