Foto: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyambut Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di pintu masuk Gedung Putih, Washington, D.C., Amerika Serikat, pada 7 April 2025. REUTERS/Leah Millis – 8 Juli 2025, pukul 12:11 AM GMT+7.
Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed*
Di tengah intensifnya upaya diplomatik internasional untuk mengakhiri perang berdarah di Gaza, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Senin malam, Washington waktu setempat (Reuters, 7/7/2025). Pertemuan resmi di Oval Office seperti lazimnya, kedua pemimpin memilih format makan malam pribadi yang tertutup bagi media. Keputusan ini langsung menimbulkan spekulasi dan pertanyaan, apa sebenarnya agenda di balik pertemuan dua tokoh kontroversial ini?
Pertemuan ini bersamaan dengan berlangsungnya pembicaraan tidak langsung antara Israel dan kelompok Hamas di Doha, Qatar, yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Tujuan utamanya mencari terobosan menuju kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera yang masih ditahan sejak pecahnya perang pada Oktober 2023.
Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?
Wilayah Ini Waspada! Gempa Megathrust Hitungan Menit Picu Tsunami 20 Meter
Ada Apa Dengan Bahlil? Subsidi Listrik Tembus Rp 100 Triliun, APBN 2026 Terancam
Memanas, Ulama Iran Keluarkan Fatwa Terbaru: Pemimpin Ini Musuh Tuhan
Donald Trump, yang kembali menjabat sejak Januari 2025, dalam pernyataannya sehari sebelum pertemuan tersebut, menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai dapat dicapai dalam pekan ini. Netanyahu pun menyatakan bahwa dialognya dengan Trump dapat mendorong kemajuan dalam perundingan yang sedang berlangsung di Qatar.
Namun pertemuan tertutup yang tak seperti biasanya dibuka untuk pers, malah memunculkan spekulasi dari berbagai pihak. Tidak sedikit pengamat internasional yang melihat bahwa gaya diplomasi tertutup ini bisa menimbulkan kecurigaan serius, terutama dari pihak Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan. Iran diketahui menjadi salah satu pendukung utama Hamas, dan baru-baru ini menjadi target serangan udara gabungan antara Israel dan Amerika, menyusul tuduhan bahwa Teheran sedang memperkuat program nuklirnya. Trump sendiri bahkan menyebut serangan terhadap situs nuklir Iran sebagai “kesuksesan besar” dan menyatakan keyakinannya bahwa kemampuan nuklir Iran telah hancur secara permanen, walaupun Iran membantah tuduhan memiliki senjata nuklir. Pertanyaannya, jika Trump dan Netanyahu yakin nuklir Iran yang dituduhkan oleh Israel dan AS telah hancur atas serangan AS tapi kenapa Trump dan Netanyahu hingga saat ini masih membahas nuklir Iran? Hal inilah yang kemudian membuat nalar kita terusik, apakah klaim Iran memiliki nuklir itu benar-benar nyata atau hanya sekedar isu untuk melegalkan menggempur Iran dengan kekuatan militer.
Great Institute: Potensi “Perang Dunia III” dan Kesiapan Indonesia ke Depan
Netanyahu Ancam Serang Iran Lebih Besar, “Saat Ini Belum Seberapa”
Prabowo, Pilih Jalan Tengah Karena Kapitalisme Membuat Ekonomi RI Tak Rata
Efek Gabung BRICS? Ancaman Tarif Trump 2025 Nyata, Rupiah Melemah!
Di sisi lain, kunjungan Netanyahu ke Washington ini dinilai lebih dari sekadar pembicaraan soal Gaza. Sejumlah sumber diplomatik di Tel Aviv menyebut bahwa agenda pertemuan juga mencakup peluang normalisasi hubungan antara Israel dengan negara-negara seperti Suriah, Lebanon, dan bahkan Arab Saudi. Avi Dichter, anggota kabinet keamanan Israel, menyebut bahwa kunjungan ini berpotensi membentuk “Timur Tengah baru,” sebuah konsep yang selama ini menjadi narasi utama diplomasi geopolitik Israel dan AS.
Namun, apa sebenarnya makna dari pertemuan yang tertutup ini? Secara strategis, makan malam pribadi tersebut memungkinkan kedua pemimpin berbicara secara lebih terbuka tanpa tekanan politik atau diplomatik. Mereka bisa mendiskusikan langkah-langkah sensitif yang belum matang untuk dikonsumsi publik mulai dari kesepakatan pertukaran sandera, penarikan pasukan secara bertahap dari Gaza, hingga masa depan Hamas sebagai kekuatan bersenjata di wilayah tersebut. Trump dikabarkan akan menekan Netanyahu agar segera menyepakati gencatan senjata, sejalan dengan meningkatnya tekanan dari masyarakat internasional dan warga Israel yang mulai jenuh dengan perang berkepanjangan.
Namun, justru karena sifatnya yang tertutup dan di luar jalur diplomasi formal, pertemuan ini dapat menimbulkan kecurigaan kuat dari Iran dan blok perlawanan yang didukungnya. Langkah ini bisa ditafsirkan sebagai konsolidasi kekuatan antara Israel dan AS untuk memperkuat posisi militer, bukan diplomasi. Jika persepsi ini berkembang, maka bukan mustahil pembicaraan damai di Qatar bisa diganggu oleh ketidakpercayaan, atau bahkan sabotase tidak langsung dari pihak-pihak yang merasa dikecualikan.
Pada hari yang sama, pembicaraan tidak langsung di Doha memasuki hari kedua. Kendati ada sinyal positif dari para mediator, hambatan terbesar tetap pada penolakan Israel untuk menjamin akses aman dan bebas bagi bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Sementara itu, warga Gaza terus menjadi korban. Serangan udara terbaru Israel kembali memakan korban sipil, memperburuk kondisi lebih dari 500.000 warga yang terancam kelaparan dalam beberapa bulan mendatang menurut laporan PBB.
Konflik ini bermula pada 7 Oktober 2023, ketika Hamas melancarkan serangan mendadak ke wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Sejak itu, Israel melakukan serangan balasan besar-besaran yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina menurut data Kementerian Kesehatan di Gaza. Sebagian besar infrastruktur hancur, dan lebih dari dua pertiga penduduk Gaza kini hidup mengungsi.
Pertanyaan besar yang tersisa, akankah pertemuan Netanyahu dan Trump membuka jalan damai, atau justru memicu babak baru ketegangan? Jawabannya masih bergantung pada langkah nyata yang diambil pasca pertemuan ini. Bila hasil pertemuan hanya memperkuat posisi militer Israel tanpa memberi ruang keadilan bagi rakyat Palestina, maka “Timur Tengah baru” yang dibayangkan akan berubah menjadi medan konflik yang lebih luas.
Namun jika kedua pemimpin mampu menggunakan momentum ini untuk mendorong penyelesaian politik yang adil, disertai jaminan kemanusiaan dan masa depan yang layak bagi Gaza dan Israel, maka pertemuan tertutup ini justru bisa menjadi titik balik menuju perdamaian yang selama ini terasa jauh dari jangkauan.
*Penulis: Pendiri The Activist Cyber dan Pemerhati Demokrasi.