Meski produksi padi nasional diperkirakan meningkat tajam pada periode Juni hingga Agustus 2025, harga beras justru terus merangkak naik dan menjadi penyumbang utama inflasi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan publik, mengapa stok melimpah tidak otomatis menurunkan harga?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi pada Juni 2025 mencapai 0,19% secara bulanan (month-to-month), membalikkan tren deflasi 0,37% yang terjadi pada Mei. Secara tahunan (year-on-year), inflasi Juni tercatat 1,87%, melampaui perkiraan konsensus sebesar 1,80%, dan naik dari angka 1,60% pada Mei.
Wilayah Ini Waspada! Gempa Megathrust Hitungan Menit Picu Tsunami 20 Meter
Per 1 Juli 2025 Hari Ini BBM Naik, Berikut Rinciannya
Menelisik Jokowi Ketika “Melindungi” Gibran Dari Ancaman Pemakzulkan?
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini di Jakarta 1/7/2025, bahwa salah satu komoditas yang paling dominan mendorong inflasi Juni adalah beras. Ia juga menyebut komoditas lain seperti cabai rawit, tomat, telur ayam ras, dan bawang merah sebagai penyumbang inflasi bulanan.
“Meski produksi padi diperkirakan naik, harga beras terus naik karena distribusi dan perilaku pasar yang belum seimbang,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta.
Rinciannya, pada Juni 2025, harga beras di tingkat penggilingan mengalami kenaikan rata-rata di semua jenis:
- Beras premium: Rp13.268/kg (naik 2,05% dari Mei)
- Beras medium: Rp12.869/kg (naik 2,33%)
- Beras submedium: Rp12.675/kg (naik 1,25%)
- Beras pecah: Rp13.333/kg (naik 2,71%)
Dibandingkan dengan Juni 2024, lonjakan harga beras paling tajam terjadi pada jenis beras pecah yang naik hingga 10,44%.
Waspada Berikut Modus Pembobol Rekening, Korban Pensiunan ASN
Danantara Akan Terima Pendanaan Rp162 Triliun dari Bank Asing
Kenaikan harga juga tercermin di tingkat grosir dan eceran. Di grosir, beras mengalami inflasi sebesar 1,78% secara bulanan dan 4,16% secara tahunan. Sementara di tingkat eceran, kenaikan mencapai 1% bulanan dan 3,38% tahunan.
Ironisnya, lonjakan harga ini terjadi saat produksi padi diprediksi naik signifikan. BPS memperkirakan produksi padi pada Juni–Agustus 2025 akan mencapai 14,03 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), naik 13,94% dibanding periode yang sama tahun 2024. Bahkan total produksi Januari–Agustus 2025 diprediksi mencapai 43,34 juta ton GKG, meningkat 14,11% dari tahun sebelumnya.
Namun demikian, Pudji menegaskan bahwa melimpahnya produksi belum tentu otomatis menurunkan harga jika distribusi dan mekanisme pasar tidak berjalan seimbang. Faktor perilaku konsumen, spekulasi pedagang, dan pola distribusi antarwilayah tetap berpengaruh terhadap harga di pasar.
Tegang! Khamenei dan Trump Saling Serang
Kondisi aktual yang tampak paradok, produksi padi meningkat, namun harga beras naik dan mendorong inflasi. Penjelasan dari BPS menunjukkan pentingnya koordinasi dalam distribusi dan regulasi pasar agar hasil produksi yang tinggi benar-benar berdampak pada kestabilan harga pangan di tingkat masyarakat.
(Amh/PM)